Pusat Informasi- terkait Tips, Teknologi, Tutorial, Kesehatan, Fashion, Kuliner, Mahasiswa dan info penting lainnya.

Kumpulan Materi PKD PMII Se-Indonesia, Modul PKD PMII 2018

Kumpulan Atau Modul Materi PKD PMII Se-Indonesia;

1. PARADIGMA PMII
2. MANAJEMEN KONFLIK
3. ISLAM SEBAGAI TEOLOGI PEMBEBASAN
4. ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL-FIQR
5. ANALISIS WACANA
6. ANALISA SOSIAL
7. MANAGEMEN AKSI


PARADIGMA PMII

Paradigma merupakan suatu yang vital bagi pergerakan organisasi. Karena paradigma merupakan titik pijak dalam membangun konstruksi pemikiran dan cara memandang sebuah persoalan yang akan termanisifikasikan dalam sikap dan prilaku organisasi. 

Disamping itu, dengan paradigma ini pula sebuah organisasi akan menentukan dan memilih nilai-nilai yang universal dan abstrak menjadi khusus dan praktis operasional yang akhirnya menjadi karakteristik sebuah organisasi dan gaya berfikir seseorang.

Pengertian dan Definisi Paradigma

Dalam khasanah ilmu sosial, ada beberapa pengertian paradigma yang dibangun oleh para pemikir sosiologi. Salah satu diantaranya adalah  G. Ritzer yang memberi pengertian paradigma sebagai pandangan fundamental tentang apa yang menjadi pokok persoalan dalam ilmu.

Paradigma membantu apa yang harus dipelajari, pertanyaan apa yang harus dijawab, bagaimana seharusnya pertanyaan-pertanyaan itu di ajukan dalam aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperoleh. 

Paradigma merupakan kesatuan konsensus yang paling luas dalam suatu bidang ilmu dan membedakan antara kelompok ilmuwan. Menggolongkan, mendefinisikan dan yang menghubungkan antara eksemplar, teori, metode serta instrumen yang terdapat didalamnya. 

Mengingat banyaknya definisi yang dibentuk oleh para sosiolog, maka perlu ada pemilihan atau rumusan yang tegas mengenai definisi paradigma yang hendak diambil oleh PMII. Hal ini perlu dilakukan untuk memberi batasan yang jelas mengenai paradigma dalam pengertian komunitas PMII agar tidak terjadi perbedaan persepsi dalam memaknai paradigma.

Maka pengertian paradigma dalam masyarakat PMII dapat dirumuskan sebagai titik pijak untuk menentukan cara pandang, menyusun sebuah teori, menyusun pertanyaan dan membuat rumusan mengenai suatu masalah. 

Lewat paradigma ini pemikiran seseorang dapat dikenali dalam melihat dan melakukan analisis terhadap suatu masalah. Dengan kata lain, paradigma merupakan cara dalam mendekati “obyek kajianya (the subject matter of particular discipline) yang ada dalam ilmu pengetahuan. Orientasi atau pendekatan umum (general orientations) ini didasarkan pada asumsi-asumsi yang dibangun dalam kaitan dengan bagaimana “realitas” dilihat. 

Perbedaan paradigma yang digunakan oleh seseorang dalam memandang suatu masalah, akan berakibat pada timbulnya perbedaan dalam menyusun teori, membuat konstruk pemikiran, cara pandang sampai pada aksi dan solusi yang diambil.

Pilihan Paradigma PMII

Disamping terdapat banyak pengertian mengenai paradigma dalam ilmu sosial ada berbagai macam jenis paradigma. Melihat realitas yang ada di masyarakat dan sesuai dengan tuntutan keadaan masyarakat PMII baik secara sosiologis, politis dan antropologis, akan PMII memilih paradigma kritis transformatif sebagai pijakan gerakan organisasi.

Paradigma Kritis Transformatif PMII

Dari penelusuran yang cermat atas paradigma kritis, terlihat bahwa paradigma kritis sepenuhnya merupakan proses pemikiran manusia. Dengan demikian dia adalah secular. Kenyataan ini yang membuat PMII dilematis, karena akan mendapat tuduhan secular jika pola pikir tersebut diberlakukan.

Untuk menghindari tudingan tersebut, maka diperlukan adanya reformulasi penerapan paradigma kritis dalam tubuh warga pergerakan. Dalam hal ini, paradigma kritis diberlakukan hanya sebatas sebagai kerangka berfikir dan metode analisis dalam memandang persoalan.

Dengan sendirinya dia harus diletakkan pada posisi diluar ketentuan agama, sebaliknya justru ingin mengembalikan dan mengfungsikan ajaran agama yang sesungguhnya sebagaimana mestinya. Dengan kata lain paradigma kritis di PMII berupaya menegakkan sikap kritis dalam kehidupan dengan menjadikan ajaran agama sebagai inspirasi yang hidup dan dinamis.

Sebagaimana dijelaskan di atas, pertama paradigma kritis berupaya menegakkan harkat dan martabat kemanusiaan dari berbagai belenggu yang diakibatkan oleh proses sosial yang bersifat profan. Kedua, paradigma kritis melawan segala bentuk dominasi dan penindasan.

Ketiga, paradigma kritis membuka tabir dan selubung pengetahuan yang menarik dan hegemonik. Semua ini adalah semangat yang dikandung oleh Islam. Oleh karenanya, pokok-pokok pikiran inilah yang dapat diterima sebagai titik pijak paradigma kritis dikalangan warga PMII.

Contoh yang paling kongkrit dalam hal ini bisa ditunjuk pola pemikiran yang mengunakan paradigma kritis dari berbagai intelektual islam, diantaranya:

1.    Hassan Hanafi

Penerapan paradigma kritis oleh Hassan Hanafi ini terlihat jelas dalam konstruksi pemikiranya terhadap agama. Dia menyatakan untuk memperbaharui Islam yang mengalami ketinggalan dalam segala hal, pertama-tama diperlukan analisis sosial.

Menurutnya, pemikiran tradisional Islam, dalam rangka menganalisis masyarakat selama ini mengandalkan otoritas teks kedalam kenyataan. Dia menemukan kelemahan mendasar dalam metodologi ini. Pada titik ini dia memberikan kritik tajam terhadap metode tradisional teks yang telah mengalami ideologisas

Untuk mengembalikan peran agama dalam menjawab problem sosial yang dihadapi masyarakat, Hassan Hanafi mencoba menggunakan metode “kiri Islam” yaitu metode pendefinisian realitas secara kongkrit untuk mengetahui siapa memiliki apa, agar realitas berbicara dengan dirinya sendiri.

Sebagai realisasi dari metode ini, dia menawarkan “desakralisasi theology” dengan menjadikan theology sebagai antropologi. Pemikiran ini dimaksudkan untuk menyelamatkan Islam agar tidak semata-mata menjadi sistem kepercayaan (sebagai theology parexellence), melainkan juga sebagai sistem pemikiran.

Usaha Hassan Hanafi ini ditempuh dengna mengadakan rekrontruksi tehadap theology tradisional yang telah mengalami pembekuan dengan memasukkan hemenutika dan ilmu sosial sebagai bagian integral dari theology. Untuk menjelaskan theology menjadi antropologi, Hanafi memaknai theology sebagai ilmu kalam. Kalam merupakan realitas manusiawi sekaligus Ilahi.

Kalam bersifat manusiawi karena merupakan wujud verbal dari kehendak Allah ke dalam bentuk manusia dan bersifat Ilahi karena datang dari Allah. Dalam pemikiran Hanafi, kalam lebih bersifat “praktis” dari pada “logis”, karena kalam-sebagai kehendak Allah-memiliki daya imperative bagi siapapun kalam itu disampaikan.

Pandangan Hanafi tentang theology ini berbeda dengan theology Islam yang secara tradisional dimengerti sebagai ilmu yang berkenaan dengan pandangan mengenai akidah yang benar. Mutakallimin sering disebut sebagai “ahl al-ra’yu wa al-nadaar” yang muncul untuk menghadapi “ahl-albid’ah” yang mengancam kebenaran akidah Islam.

Dua kelompok ini akhirnya berhadapan secara dialektis. Akan tetapi dialektika mereka bukanlah dialektika tindakan, tetapi dialektika kata-kata. Gagasan ideologi sebagai antropologi yang disampaikan oleh Hassan Hanafi sebenarnya justru ingin menempatkan ilmu kalam sebagai ilmu tentang dialektika kepentingan orang-orang yang beriman dalam masyarakat tertentu.

Dalam pemikiran Hassan Hanafi, ungkapan “theology menjadi antropologi” merupakan cara ilmiah untuk mengatasi ketersingungan theology itu sendiri. Cara ini dilakukan melalui pembalikan sebagaimana pernah dilakukan Karl Marx tehadap filsafat Hegel.

Upaya ini tampak secara provokatif dalam artikelnya “ideologi dan pembangunan” lewat subjudul; dari Tuhan ke bumi, dari keabadian ke waktu, dari taqdir ke kehendak bebas, dan dari otoritas ke akal, dari theology ke tindakan, dari kharisma ke partisipasi massa, dari jiwa ke tubuh, dari eskatologi ke futurology.

2.      Mohammad Arkoun

Arkoun menilai bahwa pemikiran Islam, kecuali dalam beberapa usaha pembaharuan kritis yang bersifat sangat jarang dan mempunyai ruang perkembangan yang sempit sekali, belum membuka diri pada kemodernan pemikiran dan karena itu tidak dapat menjawab tantangan yang dihadapi umat muslim kontemporer. Pemikiran Islam dianggapnya “naif’ karena mendekati agama atas dasar kepercayaan langsung tanpa kritik.

Pemikiran Islam tidak menyadari jarak antara makna potensial terbuka yang dibeikan dalam wahyu Illahi dan aktualisasi makna itu dalam sejumlah makna yang diaktualisasikan dan dijelamakan dalam berbagai cara pemahaman, penceritaan dan penalaran khas masyaraakt tertentu ataupun dalam berbagai wacana khas ajaran teologi dan fiqih tertentu. Pemikiran Islam juga tidak menyadari bahwa dalam proses itu bukan hanya pemahaman dan penafsiran tertentu ditetapkan dan diakui, melainkan pemahaman dan penafsiran lain justru disingkirkan. Hal-hal itu baru didalami oleh berbagai ilmu pengetahuan modern, yang ingin dimasukkan arkoun ke dalam pemikiran Islam.

Krena kritiknya yang terlalu kritis ini, Arkoun sering membeikan jawaban diluar kelaziman umat Islam (uncommon answer) ketika menjawab proble-proble kehidupan yang dialami umat Islam. Jawaban seperti ini telihat jelas dalam penerapan tori pengetahuan (theory of knowledge).

Teori pengetahuan ini meliputi landasan epistemology kajian tentang Islam. Dalam hal ini Arkoun membedakan berbagai berbagai wacana ideologis, wacana rasional dan wacana profetis. Setiap wacana memiliki watak yang berbeda sehingga diperlukan kesesuaian dengna wataknya. Selama ini orang dengan mudah menyatakan melakukan kajian secara ilmiah, akan tetapi itu tidak jarang hanya merupakan proses ideologis semata. Ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang muslim, melainkan juga oleh orang-orang barat yang mengideologikan sikap meeka dalam memandang Islam. Salah satu corak ideologi adalah unsur kemadekan (tidak dinamis), resistensi (tidak kritis dan demi kekuatan (tidak transformatif).

 Untuk merealisasikan jawab tersebut Arkoun berusaha meletakkan dogma, interpretasi dan teks secara proporsional. Upaya ini dilakukan untuk membuka dialog terus-menerus antara agama dengan realitas untuk menentukan wilayah-wilayah mana dari agama yang bisa didialogkan dan dintrepretasikan sesuai dengan konteknya.

Kedua pola pikir dari inteltual Islam di atas merupakan sedikit contoh yang bisa dijadikan model bagaimana paradigma kritis diberlakukan dalam wilayah pemikiran keagamaan. Disamping kedua pemikir Islam diatas sebenarnya masih banyak pemikir lain yang menerapkan pemikiran kritis dalam mendekati agama, misalnya Abdullah Ahmed An-naim, Asghar Ali Enggineer, Thiha Hussein, dan sebagainya.

Dari kedua contoh diatas terlihat bahwa paradigma kritis sebenarnya beupaya membebaskan manusia dengna semangat dan ajaran agama yang lebih fungsional. Dengan kata lain, kalau paradigma kritis Barat berdasarkan pada semangat revolusioner sekuler dan dorongan kepantingan sebagai dasar pijakan, paradigma kritis PMII justru menjadikan nilai-nilai agama yang terjebak dalam dogmatisme itu sebagai pijakan untuk membangkitkan sikap kritis melawan belenggu yang kadang disebabkan oleh pemahaman keagamaan yang distortif.

Jelas ini terlihat ada pebedaan yang mendasar penerapan paradigma kritis antara pemikiran barat dengan Islam (yang diterapkan PMII). Namun demikian harus diakui adanya persamaan antara keduanya yaitu dalam metode analisa, bangunan teoritik dan semangat pembebasan yang terkandung didalamnya. Jika paradigma kritis ini bisa diterakan dikalangan warga pergerakan, maka kehidupan keagamaan akan bejalan dinamis, bejalannya proses pembentukan kultur demokratis dan penguatan civil society akan segera dapat terwujud. Dan kenyataan ini terwujud manakala masing-masing anggota PMII memahami secara mendalam pengetian, kerangka paradigmamatik dan konsep teoritis dari paradigma kritis yang dibangun oleh PMII.

Dalam pandangan PMII, paradigma kritis saja tidak cukup untuk melakukan transformasi sosial, karena paradigma kritis hanya berhenti pada dataran metodologis konsepsional untuk mewujudkan masyarakat yang komunikatif dan sikap kritis dalam memandang realitas.Paradigma kritis hanya mampu menelanjangi berbagai tendensi ideologi, memeberikam perspektif kritis dalam wacana agama dan sosial, namun ia tidak mampu memberikan perspektif perubahan pasca masyarakat terbebaskan.

Pasca seseorang terbebaskan melalui perspektif keitis, paradigma kritis tidak memberikan tawaran yang praktis. Dengan kata lain, paradigma kritis hanya mampu melakukan analisis tetapi tidak mampu melakukan organizing, menjembatani dan memberikan orientasi kepada kelompok gerakan atau rakyat. Paradigma kritis masih signifikan untuk digunakan sebagai alat analisis sosial, tetapi kurang mampu untuk digunakan dalam perubahan sosial. Karena ia tidak dapat memberikan perspektif dan orientasi sebagai kekuatan bersejarah dalam masyarakat untuk bergerak. Karenanya, paradigma kritis yang digunakan di PMII adalah kritik yang mampu mewujudkan perubahan sehingga menjadi paradigma kritis transformatif.

Paradigma kritis transformatif PMII dipilih sebagai upaya menjembatani kekurangan-kekurangan yang ada dalam paradigma kritis pada wilayah-wilayah turunan dari bacaan kritisnya terhadap realitas. Dengan demikian paradigma kritis transformatif dituntut untuk memiliki instrumen-instrumen gerak yang bisa digunakan oleh masyarakat PMII mulai dari ranah filosofis sampai praksis.

Dasar Pemikiran Paradigma Kritis Transformatif PMII

Ada beberapa alasan yang menyebabkan PMII harus memilih paradigma kritis sebagai dasar untuk bertindak dan mengaplikasikan pemikiran serta menyusun cara pandang dalam melakukan analisa.

Pertama, masyarakat Indonesia saat ini sedang terbelenggu oleh nilai-nilai kapitalisme modern. Kesadaran masyarakat dikekang dan diarahkan pada satu titik yaitu budaya masa kapitalisme dan pola pikir positivistik modernisme. Pemikiran-pemikiran seperti ini sekarang telah menjadi berhala yang mengharuskan semua orang untuk mengikatkan diri padanya. Siapa yang tidak melakukan, dia akan ditinggalkan dan dipimggirkan. Eksistensinyapun tidak diakui. Akibatnya jelas, kreatifitas dan pola pikir manusia menjadi tidak berkembang. dalam kondisi seperti ini maka penerapan paradigma kritis menjadi suatu keniscayaan.

Kedua, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, baik etnik, tradisi, kultur maupun kepergayaan. Kondisi seperti ini sangat memerlukan paradigma kritis, karena paradigma ini akan memberikan tempat yang sama bagi setiap individu maupun kelompok masyarakat untuk mengembangkan potensi diri dan kreatifitasnya secara maksimal melalui dialog yang terbuka dan jujur. Dengan demikian potensi tradisi akan bisa dikembangkan secara maksimal untuk kemanusiaan.

Ketiga, sebagai mana kita ketahui selama pemerintahan orde baru berjalan sebuah sistem politik yang represif dan otoriter denganpola yang hegemonik. Akibatnya ruang publik masyarakat hilang karena direnggutoleh kekuatan negara. Dampak lanjutannya adalah berkembangnya budaya bisu dalam masyarakat, sehungga proses demokratisai terganggu karena sikap kritis diberangus. Untuk mengembangkan budaya demokratis dan memperkuat civil society dihadapan negara, maka paradigma kritis merupakan alternatif yang tepat.

Keempat, selama pemerintahan orba yang menggunakan paradigma keteraturan (order paradigma) dengan teori-teori modern yang direpresentasikan melalui ideologi developmentalisme, warga PMII mengalami proses marginalisasi secara hampir sempurna. Hal ini karena PMII dianggap sebagai wakil dari masyarakat tradisional.

Selai itu, paradigma keteraturanpun memiliki konsekwensi logis bahwa pemerintah harus menjaga harmoni dan keseimbangan sosialyang meniscayakan adanya gejolak sosial yang harus ditekan sekecil apapun. Sementara perubahan harus berjalan secara gradual dan perlahan. Dalam suasana demikian masa PMII secara sosiologis akan sulit berkembang karena tidak memiliki ruang yang memadai untuk mengembangkan diri, mengimplementasikan kreatifitas dan potensi dirinya.

Kelima, selain belenggu sosial politik yang dilakukan oleh negara dan sistemkapitalisme global yang terjadi akibat perkembangan situasi, faktor yang secara spesifik terjadi dikalangan PMII adalah kuatnya belenggu dogmatisme agama dan tradisi.

Dampaknya, secara tidak sadar telah terjadi berbagai pemahaman yang distortif mengenai ajaran dan fungsu agama. Terjadi dogmatisasi agama yamg berdampak pada kesulitan membedakan mana yang dogma dan mana yang pemikiran terhadap dogma. Agamapun menjadi kering dan beku, bahkan tidak jarang agama justru menjadi penghalang bagi kemajuan dan penegakan nilai kemanusiaan. Menjadi penting artinya sebuah upaya dekonstruksi pemahaman keagamaan melalui paradigma kritis.

MANAJEMEN KONFLIK

Definisi Konflik

Konflik berasal dari bahasa latin Configere : saling memukul atau berbenturan. Dua batang kayu yang saling dibenturkan terus menerus seringkali bisa menimbulkan api. Api yang dihasilkan tidak selalu bersifat distruktif. Dan seringkali hal ini justru diupayakan oleh para juru damai sebagai mana konflik-konflik yang tercipta lewat perjuangan aktif tanpa kekerasan seperti yang dilakukan oleh Gandhi yang akhirnya membebaskan India dari cengkraman kolonial inggris.

Dalam perkembangan pasca perang dunia ke-II, definisi konflik tidak lagi membatasi pada konflik berskala besar saja, misalnya: antar negara, antar wilayah, tetapi juga adanya konflik diwilayah intra personal atau konflik dalam diri sendiri hingga konflik bersenjata. Yang dimaksud dengan konflik dalam perkembangan terkini adalah keadaan sebagai akibat adanya pertentangan kepentingan oleh pihak yang berbeda.

Apa yang membedahkan antara konflik Destruktif dan yang Konstruktif yang membedakan adalah cara pihak-pihak yang ada dalamkonflik menangani konflik tersebut untuk memanfaatkan kearah perubahan yang sungguh konstruktif.

Cara membuat konflik menjadi sesuatu yang konstruktif ini disebut dengan melakukan transformasi konflik.

Sumber-sumber dan Jenis-jenis Konflik

Manusia akan selalu berorientasi dengan orang lain yang memiliki perbedaan pendapat, kepentingan dan kebutuhan. Konflik juga tidak dapat dihindari, segigih apapun upaya kita untuk menghindari konflik dinamikanya akan tetap berlanjut. Jika kita membiarkannya terjadi, meninggalkanya, seringkali malah semakin besar dan semakin sulit untuk ditangani.

Beberapa uraian berikut akan membantu dalam memahami konflik yang ada yang memiliki potensi “bahaya” atau “peluang.”

Secara sederhana, konflik dapat dipahami sebagai terjadinya perbedaan kepentingan. Misalnya ; Huda dan teman-temannya ingin nonton rame-rame, pada saat yang sama teman satu kosnya sedang sakit dan Huda harus menunggunya karena teman kos yang lain pada pulang semua.

Pada skala yang lebih kecil setip orang mengalami konflik yang di sebabkan oleh :

1.      Konsep Diri

Kebanyakan, orang yang berasumsi terlalu buruk tentang diri mereka sendiri dan berasumsi bahwa orang lain menggap dirinya lebih rendah. Maka mereka tersebut akan berasumsi bahwa orang meremehkan dirinya dirinya dari sederetan daftar apa yang di katakana orang tentang dirinya.

2.      Tekan Dari Pihak Lain

Pihak lain yang dimaksud bias jadi adalah orang lain atau kelompok lain yang mencoba mempengaruhi cara kita berfikir dan bahkan dalam pilihan kita pada masalah social atau yang lain.

3.      Kekuasaan (Power)

Banyak orang merasa mereka butuh untuk menyertakan kekuasan terhadap orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Hal tersebut bias berupa penyertaan ganjaran hukuman atau hdiah sebagaimana orang tua yang menyuruh anaknya untuk melakukan sesuatu.

4.      Budaya

Setiap budaya memiliki karakteristik dan nilai yang berbeda-beda satu sama lain. Ketidak pahaman atau kurangnya toleransi budaya seringkali memicu konflik. Semisal, penggunaan tangan kanan untuk mengambil barang atau makanan dianggap sopan. Dalam budaya lain belum tentu.

5.      Endapan Konflik

Hampir dalam setiap interaksi selalu terdapat konflik, namun seringkali kita mengabaikan konflik-konflik kecil yang mungkin kita anggap biasa. Namun bias jadi kumpulan dari berbagai konflik kecil itu kemudian mengendap menjadi stu dan berubah menjadi sebuah konflik yang lebih besar

Sikap Seseorang Ketika Menghadapi Konflik

1.      Kompetisi (saya menang dia kalah)

Kondisi dimana saya mendapatkan apa yang saya inginkan, menganggap kepentingan dan tujuan saya paling penting mesklipun untuk mencapainya saya harus membuat orang lain merasa terancam. Dalam kondisi ini ketika kita menyatakan posisi kita, yang penting adalah bagaimana membuat kita menang dan cara yang mudah untuk membuat orang lain kalah.

2.      Submisif (dia menang saya kalah)

Sejauh kita tidak berlawanan dengan pihak lain, saya tidak bias menyatakan apa yang sebenarnya saya inginkan. Seringkali kita bingung bagaiman cara kita menghormati orang lain  dengan cara yang baik, biasanya kita kita tidak menyatakan keinginan karena hal ini akan  membangkitkan ketegangan dan tidak nyaman. Akibatnya kita hanya memendam dalam diri, kemudian memuncak dan tak terbendung, kita dapat merusak diri sendiri ataupun orang lain.

3.      Menghindar (saya kalah kamu kalah)

4.      Hubungan dan hasil yang tidak terpenuhi keduanya. Kita tidak menghadapi konflik itu sendiri, kita seperti meletakkan kepala kita di pasir artinya lari dari ketakutan atau percaya konflik tidak dapat di cari penyelesaiannyadengan usaha yang kita lakukan. Padahal dengan menghindar ini, seperti telah kita bahas sebelumnya, konflik tidak akan pernah berhenti dan akan selalu ada.

5.      Kerja sama (saya menang kamu menang)

Mencapai hasil itu penting, tetapi hubungn dengan orang lain itu juga penting. Prinsipnya ; bahwa akhir penyelesaian harus konsisten dengan hasilnya. Bahwa kemenangan atau hasil akhir dari penyelesaian konflik adalah saya menang dan orang lain juga menang (kemenangan semuanya). Kerjasama bukan berarti kita menapung pendapat orang lain, bukan juga menyerah kepada apa yang kita piker penting. Diperlukan juga negosiasi, bukan berarti dengan mengobankan apa yang kita anggap penting.

Gaya Seseorang Saat Mengahadapi Konflik

1.      Menghindari atau mengingkari

Banyak orang percaya adalah buruk terlihat marah pada orang lain, konflik sering menyebabkan orang sering merasa marah mereka mungkin mengingkari bahwa ada masalah atau mengingkari bahwa mereka mempunyai rasa marah pada orang lain. Meskipun demikian, menghindari masalah tidak akan memecahkan masalah. Situasi yang sama kemungkinan akan terjadi lagi dan ketika selalu menghindari maka orang tidak akan pernah tahu pemahaman kita akan suatu masalah.

2.      Agresi atau Koinfrontasi

Cara agresi menangani konflik adalah menyerang orang lain dan bukan mendenganrkan pendapat orang lain. Agresif berarti menyerang dan sering kali menimbulkan kerugian bagi orangn lain, gaya ini membuat konflik lebih sulit untuk dipecahkan. Mudah memancing kemarahan dan frustasi dan kekerasan tak jarang terjadi sebelum konflik di temukan.

3.      Asertif (menyatakan keinginan tanpa melukai orang lain)

Pendekatan yang asrtif memastikan bahwa kedua belah pihak didengar dan pihak yang berkoflik dilibatkan untuk membecarakan berbagai cara untuk memecahkan persoalan. Perlu diingat bahwa ; pihak yang berkonflik mungkin butuh untuk merubah tingkah laku untuk memecahkan konflik.

ISLAM SEBAGAI TEOLOGI PEMBEBASAN

Sejarah dan Perkembangan Teologi Pembebasan

Teologi Pembebasan pada awalnya muncul di Eropa abad kedua puluh dan menjadi studi penting bagi agama-agama untuk melihat peran agama untuk membebaskan manusia dari ancaman globalisasi dan menghindarkan manusia dari berbagai macam dosa sosial, serta menawarkan paradigma untuk memperbaiki sistem sosial agi manusia yang telah dirusak oleh berbagai sistem dan idiologi dari perbuatan mansuai sendiri (Wahono, 2000 : I ).

Perkembangan Teologi Pembebasan di Eropa lebih pada pemikiran, sedangka di Amerika Latin dan Asia pada pemikiran ke gerakan untuk melawan hegemoni kekuasaan yang otoriter. Teologi pembebasan di Amerika Latin merupakan bagian dari gerakan para agamawan melawan hegemoni kekuasaan negara totaliter.

Seperti yang pernah dinyatakan oleh Leonardo Boff, Teologi Pembebasan adalah pantulan pemikiran, sekaligus cerminan dari keadaan nyata, suatu praksis yang sudah ada sebelumnya. Lebih tepatnya, masih menurut Boff, ini adalah pengungkapan atau pengabsahan suatu gerakan sosial yang amat luas, yang muncul pada tahun 1960-an yang melibatkan sektor-sektor penting sistem sosial keagaman, seperti para elit keagamaan, gerakan orang awam, para buruh, serta kelompok-kelompok masyarakat yang berbasis keagamaan (Lowy, 1999 : 27).

Teologi Pembebasan adalah produk kerohanian. Dan harus diakui, dengan menyertakan di dalamnya suatu doktri keagamaan yang benar-benar masuk akal, Teologi Pembebasan telah memberikan sumbangsih yang amat besar terhadap perluasan dan penguatan gerakan-gerakan tersebut. Doktrin masuk akal itu telah membentuk suatu pergeseran radikal dari ajaran tradisional keagaman yang mapan. Beberapa diantara doktrin itu adalah ;


  1. Gugatan moral dan sosial yang amat keras terhadap ketergantungan kepada kapitalisme sebagai suatu sistem yang tidak adil dan menindas.
  2. Penggunaan alat analisis Marxisme dalam rangka memahami sebab-musabab kemiskinan
  3. Pilihan khusus pada kaum miskin dan kesetiakawanan terhadap erjuangan mereka menuntut kebebasan.
  4. Suatu pembacan baru terhadap teks keagamaan.
  5. Perlawanan menentang pemberhalaan sebagai musuh utama agama.
  6. Kecaman teradap teologi tradisional yang bermuka ganda sebagai hasil dari filsafat Yunani Platonis.

Kehadiran Teologi Pembebasan pada awalnya adalah untuk mengkritisi “pembangunan” yang dilakukan negara terhadap rakyatnya. Pembangunan yang dilakukan oleh negara yang didukung oleh institusi kuat seperti militer dan isntitusi agama yang semata meligitimasi kepentingan negara.

Perkembangan teologi pembebasan di Indonesia sangat lambat. Hal ini disebabkan oleh faktor negara yang represif dan kuat. Teologi Pembebasan yang dilakukan di Amerika Latin telah menunjukkan keberhasilan dalam memperjuangkan hak keadilan bagi masyarakat kecil. Pertarungan antar negara, istitusi agama dengan elit agama di luar institusi, dan rakyat yang tertindas menyatu mendapat kemenangan dan meruntuhkan rezim yang kuat.

Visi Pembebasan Islam

Unsur-unsur pembebasan dalam Islam dapat dilacak kembali sampai pada Nabi sendiri dan pengalamannya. Pada zamannya, Mekkah adalah suatu kota dagang dengan sedikit pedagang kaya tetapi banyak orang miskin yang penghidupannya tergantung pada pendapatan mereka yang kecil dari pekerjaan melayani karavan-karavan dagang yang melalui kota itu. Orang-orang masih bodoh dan bertakhayul, menyembah banyak sekali ilah. Para perempuan ditindas, bahkan mereka dapat dikubur hidup-hidup (Q.S. 81 : 8-9). Ada banyak budak, para janda dan anak yatim diabaikan.

Nabi sendiri berasal dari keluarga miskin, meskipun bangsawan. Ia diutus oleh Allah untuk membebaskan rakyat dari kebodohan dan penindasan. Ia dipaksa oleh kaumnya melarikan diri dari Mekkah ketika pesannya yang membebaskan ditolak. Dengan bimbingan Nabi, orang-orang Arab, di samping membebaskan diri mereka sendiri, juga berusaha membebaskan orang-orang dari kerajaan Romawi dan Sasania yang menindas (Engineer, 1990 : 28-30). Dari praksis inilah tradisi pembebasan Islam muncul.

Muhammad (570 – 632 Masehi), yang secara harfiyah berarti manusia yang terpuji, adalah nabi terakhir dan merupakan revolusioner pertama di zaman modern ini. Dia membebaskan budak-budak, anak-anak yatim dan perempuan, kaum yang miskin dan lemah. Perkatannya yang mengandung wahyu menjadi ukuran untuk membedakan yang benar dari yang salah, yang sejati dari yang palsu, dan kebaikan dari kejahatan. Misinya sama dengan nabi-nabi terdahulu; supremasi kebenaran, kesetaraan dan persaudaraan manusia (Haque, 2000 : 216).

Nabi Muhammad mendirikan sebuah tatanan sosial yang egaliter di mana alat-alat produksi yang mendasar dikuasai umum dan dimanfaatkan oleh semua orang secara kolektif karena semua komunitas yang berdasarkan pada kebenaran dan kesetaraan tidak mengenal penguasaan pribadi atas sumber-sumber daya seperti sumber air, tambang-tambang, kebun buah-buahan dan lain-lain, yang kepadanya masyarakat menggantungkan hidup dan kebutuhan-kebutuhan dasar.

Untuk meningkatkan kesetaraan sosial dan persaudaraan manusia, Muhammad Saw., dengan ajaran-ajaranya, mendorong emansipasi kaum budak. Para pemeluk agama Islam yang pertama terutama adalah budak-budak, mawali (budak yang telah dimerdekakan), para wanita dan anak-anak yatim. Sehingga banyak sahabat yang dulunya adalah seorang budak. Mereka diantaranya adalah Bilal, Syu’aib, salman, Zaid bin Haritsah, Abdullah ibn Mas’ud, dan ‘Ammar bin Yassir (Ibid : 226).

Konsepsi teologis tentang tauhid sesungguhnya adalah konsepsi tentang prinsip-prinsip atau nilai-nilai luhur yang menjaga kehidupan manusia di muka bumi ini; kebenaran, kasih sayang, ketulusan, kebaikan, kesetaraan, dan persaudaran manusia (Ibid : 39). Muhammad pembawa risalah dalam riwayat hisorisnya mempersembahkan hidupnya untuk menyatakan kebenaran dan membangun sebuah tatanan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai luhur tadi.

Nabi berjuang melawan kekuatan-kekuatan tersebut, yaitu kekuatan-kekuatan yang memecah belah umat manusia ke dalam faksi-faksi, kelas-kelas dan kelompok-kelompok yang saling bertikai, dimana kelas yang satu menindas kelas yang lain. Mereka bergelut melawan diskriminasi kelas, ketidakdilan, tirani, dan penindasan.

Nabi Muhammad berjuang dengan gigih dan gagah berani membebaskan umat manusia yang menderita karena perbudakan oleh orang-orang yang zalim, orang yang mengeksploitasi orang lain, para bangsawan, para pemilik budak dan para ahli agama. Mereka mengangkat harkat manusia dari jurang tahayul, kelemahan dan ketidaksempurnaan yang disebabkan oleh syirik, rasa takut, nafsu yang liar, egoisme, arogansi dan nafsu kebendaan (Ibid : 45).

Nabi-nabi sebelum Muhammad seperti Musa, Isa, Ibrahim dan yang lainnya, adalah pemberontak dan revolusioner yang melakukan revolusi melawan penindasan, diskriminasi kelas, korupsi, dan kezaliman pada lingkungan sosialnya masing-masing. Mereka berjuang sepanjang hidupnya untuk kebenaran, kesetaraan, keadilan, dan kebaikan. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa tujuan perjuangan mereka adalah menghapuskan penindasan (zulm) dalam segala bentuknya :

“Sebelum mereka kami sudah mengutus orang-orang yang kami beri wahyu. Tanyakanlah kepada mereka yang berilmu jika kamu tidak tahu. Kami tidak memberikan tubuh kepada mereka yang tidak memakan makanan, dan mereka tidak pernah hidup kekal. Kemudian Kami penuhi janji kami dan Kami selamatkan mereka dan siapapun yang Kami sukai; tetapi Kami binasakan mereka yang sudah melampui batas. Kami telah mewahyukan kepadamu (hai manusia !) sebuah kitab yang bersi pelajaran bagimu; tidaklah kamu mengerti ? Dan sudah ebrapa banyak penduduk yang Kami hancurkan karena perbuatan mereka yang sewenang-wenang, dan Kami adakan sesudah mereka kaum yang lain ! Setelah mereka merasakan azab dari Kami, ternyata mereka lari menghindarinya. Jangankan kamu lari, tetapi kembalilah kepada kesenanganmu, dan tempat-tempat tinggalmu, supaya kamu dapat ditanyai. Mereka berkata; “Ah, memang kami dulu berbuat sewenang-wenang!” Memang itulah keluhan mereka selalu, sehingga kami jadikan mereka seperti tanaman habis dituai, padam dan tak dapat hidup lagi.” (Q.S. al-Anbiya’ : 7 – 15)

Secara harfiyah, dzulm berarti memindahkan/meletakkan sesuatu atau seseorang pada tempat yang tidak semestinya, atau mencabut sesuatu atau seseorang dari bagian atau haknya yang semestinya. Jadi dzulm adalah sesuatu disequilibrium (ketidakseimbangan), disharmoni, penghapusan, atau gangguan dalam tatanan alam, harmoni, harmoni atau equilibrium segala sesuatu.

Seorang manusia yang mengingkari kebenaran, menolak kesetaraan sosial atau keadilan adalah seorang dzalim, seorang penindas yang mengingkari nilai-nilai luhur kehidupan manusia yang harmonis dan setara; dia adalah seorang kafir, yang mengingkari kebenaran dan kesetaraan dari Allah. Seorang jahat yang menggunakan kekuatan terbuka untuk membunuh yang lemah, adalah seorang dzalim atau penindas yang mencabut manusia lain dari hak asasinya untuk hidup dan dihormati.

Al-Qu’an mendefinisikan dzalimun, para penindas, adalah orang-orang yang mengingkari Allah (juga kebenaran, keadilan dan kesetaraan) (Q.S al-Baqarah : 254). Mereka adalah “ yang ingkar akan tanda-tanda Allah dan membunuh nabi-nabi tanpa sebab dan membunuh mereka yang menyuruh orang berbuat adil ..” (Q.S. Ali Imran 21) (Ibid : 45). Al-Qu’an mengumpamakan keadaan para penindas itu seperti panen yang gagal karena dirusak oleh hawa yang membeku :

“Mereka yang kafir, harta dan anak-anak mereka yang sedikitpun tak berguna dalam pandangan Allah. Mereka menghuni api neraka, di sana mereka tinggal selama-lamanya. Perumpamaan segala apa yang mereka nafkahkan dalam hidup di dunia ini seperti angin dingin menimpa tanaman suatu golongan yang menganiaya diri. Bukan Allah yang menganiaya mereka tetapi mereka menganiaya diri sendiri.” s( Q.S. Ali Imran : 116 – 117)

Dari Teologi ke Praksis

Banyak sekali pemikir Islam yang begitu membicarakan tentang persinggungan antara Islam dengan pembelaan terhadap rakyat dengan jargon yang dianggap berbau komunistik–seperti rakyat, keadilan, kemiskinan—disalahpahami dan dicurigai. Seorang Hassan Hanafi dituduh macam-macam bahkan dianggap sesat dan kafir, lepas apakah pemikirannya benar ataupun salah.

Tetapi bukankah sejarah Islam mencatat betapa banyaknya kisah tokoh Muslim yang begitu peduli dengan hal-hal yang berbau keadilan, kemiskinan, dan kerakyatan ? Dari awal, Rasulullah sudah mencanangkan kemerdekaan hamba dari yang selain Allah, termasuk anjuran menghapuskan perbudakan. Bahkan beliau, dalam doanya, menyamakan kekufuran dan kefakiran. Khalifah Abu Bakar memerangi orang yang tidak mau membayar zakat. Khalifah Umar pernah membekukan hukum potong tangan ketika musim paceklik. Khalifah Ali berkata, “seandainya kemiskinan itu adalah seorang makhluk, niscaya sudah kubunuh”.

Seorang Ali Shariati, seorang pengagum dan pengkritik Karl Marx, menyatakan bahwa memang dalam sejarah selalu ada pertarungan dua pihak, Penguasa yang zalim dengan Islam yang membela kaum tertindas. Dalam sejarah, kata Ali, betapa banyak kisah pembelaan terhadap kaum lemah dan tertindas (mustad’afin), seperti kisah Nabi Daud, Musa, dan Muhammad. Dia juga mengatakan Islam Kanan yang membungkus agama untuk berlindung dibawah kemapanan kekuasaan yang dzalim, dan Islam Kiri yang memakai Islam sebagai kritik dan alat menghancurkan kedzaliman dan membela orang kecil. (Syari’ati, 1998 : 45).

Dalam sejarah kita, Syarikat Islam terkenal amat dekat dengan rakyat. Isu kerakyatan dan buruh amat kental terasa, misalnya pemogokan dan pemberontakan petani. Bahkan cikal bakal Partai Komunis Indonesia mendompleng menbangun kader dari gerakan ini. Berbagai tarekat juga turut andil dalam pengursiran penjajah.

Di Mesir, Gerakan Ikhwanul Muslimin bergerak di kelas bawah, ke buruh-buruh. Bahkan gerakan fenomenal ini sempat beraliansi dengan Partai Sosialis setempat. Di Indonesia, Masyumi juga sangat erat dengan Partai Sosialis Indonesia. Sayang sekali, jarang ada buku dan tulisan tentang keterkaitan ajaran Islam dengan permasalahan umat kelas bawah ini. Sedikit sekali, misalnya karya Yusuf Qardhawi tentang pengetasan kemiskinan dan zakat sebagai solusinya (Qardlawi, 1998). Atau Sayyid Quthb dengan “Keadilan Sosial dalam Islam”. Selebihnya, sebagian besar hanyalah fiqh ibadah ritual dari wudlu ke haji. Memang fiqh tentang hal-hal itu penting, tetapi Islam tidak hanya berisi hal-hal syariat dan fiqh mahdhah semata.

Ashgar mengingatkan tentang bekal ajaran Islam yang sangat erat dengan Teologi Pembebasan, yaitu Persaudaran Universal, kesetaraan, keadilan sosial. Tidak tanggung-tanggung Asghar mengambil contoh dari Uswah terbaik, Rasulullah ((Q.S. al-Ahzab : 21), (Q.S. al-Qolam : 4), dalam menerapkan Teologi Pembebasan itu dan membebaskan manusia dari penindasan dan penyembahan kepada selain Allah. (Engineer, 1999 : 28)

ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL-FIQR

 SKETSA SEJARAH

Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) lahir dari pergulatan intens antara doktrin dengan sejarah. Di wilayah doktrin, debat meliputi soal kalam mengenai status Alqur’an apakah ia mahluk atau bukan, kemudian debat antara sifat-sifat Allah antara ulama’ salafiyyun dengan golongan Mu’tazilah dan seterusnya.

Di wilayah sejarah, proses pembentukan ASWAJA terentang hingga zaman Khulafaur Rasyidin, yakni dimulai sejak terjadi perang shiffin yang melibatkan Kholifah Ali bin Abi Tholib RA dengan Muawiyyah. Bersamaan dengan kekalahan kholifah ke-empat tersebut, setelah dikelabui melalui taktik arbitrase (tahkim) oleh kubu muawiyyah, ummat islam mulailah islam terpecah ke dalam berbagai golongan. Di antara mereka terdapat Syi’ah, Khowarij, Jabariyyah, Qadariyyah, Mu’tazilah, dll.

Indonesia merupakan salah satu penduduk dengan jumlah penganut faham ASWAJA terbesar di dunia. Mayoritas penduduk yang memeluk islam adalah penganut madzhab Syafi’i dan sebagian besarnya tergabung (baik tergabung secara sadar maupun tidak sadar) dalam Jam’iyyah Nahdlotul Ulama’ yang sejak awal berdiri menegaskan sebagi pengamal islam ala Ahlusunnah wal Jama’ah.

PENGERTIAN

Al-sunnah memilki arti jalan,disamping memiliki arti Al-Hadist. Disambungkan dengan ahl keduanya bermakna pengikut jalan Nabi, Para Sahabat, dan Tabi’in. Al-Jama’ah berarti sekumpulan orang yang memiliki tujuan. Bila dimaknai secara kebahasaan, Ahlussunnah wal Jama’ah berarti segolongan orang yang mengikuti jalan Nabi, Para Sahabat dan Tabi’in.

NU merupakan ORMAS islam pertama kali Indonesia yang menegaskan diri berfaham ASWAJA. Dalam konstitusi dasar yang dirumuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari juga tidak disebutkan definisi ASWAJA namun tertulis dalam konstitusi tersebut bahwa aswaja merupakan sebuah faham keagamaan  dimana dalam bidang aqidah menganut pendapat dari Abu Hasan Al-Asy’ari dan Al- Maturidhi, dalam bidang fiqih menganut pada salah satu madzhab empat, dan dalam bidang tasawuf menganut pada Imam Junaid al Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghozali.

ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL-FIKR

Kurang lebih sejak 1995/1997, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia meletakkan aswaja sebagai manhaj al fikr. Th 1997 diterbitkan sebuah buku saku tulisan sahabat Khotibul Umam Wiranu berjudul Membaca ulang Aswaja (PB PMII 1997). Konsep dasar yang dibawa dalam aswaja sebagai manhaj al fikr tidak dapat dilepas dari gagasan KH. Said Aqil Siraj yang mengundang kontroversi, mengenai perlunya aswaja ditafsir ulang dengan memberikan kebebasan lebih bagi para intelektual dan ulama’ untuk merujuk langsung kepada ulama’ dan pemikir utama yang tesebut dalam pengertian aswaja.

PMII memandang bahwa aswaja adalah orang-orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan dengan berlandaskan atas dasar moderasi, menjaga keseimbangan, dan toleran. Aswaja bukan sebuah madzhab melainkan sebuah metode dan prinsip berfikir dalam menghadapi persoalan-persoalan agama sekaligus urusan sosial kemasyarakatan, inilah makna aswaja sebagai manhaj al fikr.

Sebagai manhaj alfikr, PMII berpegang pada prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (netral), ta’adul (keseimbangan), dan tasamuh (toleran).

PRINSIP ASWAJA SEBAGAI MANHAJ

Berikut ini adalah prinsip-prinsip aswaja dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip-prinsip tersebut meliputi :

  1. AQIDAH
  2. BIDANG SOSIAL POLITIK
a. Prinsip Syura (musyawarah)
b. Prinsip Al-Adl (keadilan)
c.  Prinsip Al-Hurriyyah (kebebasan)
© Khifdhu al-nafs (menjaga jiwa)
© Khifdhu al-din (menjag agama)
© Khifdhu al-mal (menjaga harta benda)
© Khifdhu al-nasl (menjaga keturunan)
© Khifdhu al-irdh (menjaga harga diri)
d. Prinsip Al-Musawah (kesetaraan derajat) 
     
     3.BIDANG ISTINBATH AL-HUKM (Pengambilan Hukum Syari’ah)
     4. TASAWUF

PENUTUP

Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai manhaj al fikr bersifat dinamis dan sangat terbuka bagi pembaruan-pembaruan. Sebagai sebuah metode pemahaman dan penghayatan dalam makna tertentu ia tidak dapat disamakan dengan metode akademis yang bersifat ilmiah.

Dalam metode akademik, sisi teknikalitas pendekatan di atur sedemikian rupa sehingga menjadi prosedur yang teliti dan nyaris pasti. Namun demkian dalam ruang akademis pembaharuan atau perubahan sangat mungkin terjadi.
Cara Damai
Cara Kekerasan
Bertahap berusaha tidak ada korban diantara kedua belah pihak
Bertahap korbannya, dan korban idak bias dihindari
Menjunjung tinggi penghormatan kepada hak-hak asasi manusia, keadilan yang setara bagi semua pihak tanpa prasangka dan diskriminasi
Menghambat pihak lain untuk memenuhi kebutuhannya maka sangat cenderung untuk melakukan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia. Tindakan yang diambil dilihat dari sisi kepentingan pribadi.

Melakukan tahap :-   Rekonsiliasi
-    Negoisasi
-    Mediasi
-    Arbitrasi

Tidak mengupayakan penyelesaian dari dua pihak. Juga menyertakan bentuk-bentuk kekerasan fisik atau non fisik untuk mencapai tujuan
Mempertimbangkan adanya penyelesaian yang berefek jangka panjang yang memungkainkan kedua pihak dapat kembali hidup berdampingan atau saling percaya
Tidak mempertimbangkan kemungkinan kedua pihak dapat hidup berdampingan. Karena lebih berrientasi pada kemenangan satu pihak


ANALISIS WACANA


Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dan dengan berbagai pengertian. Meskipun ada gradasio yang besar dari berbagi definisi, titik singgungnya adalah analisis wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa/pemakaian bahasa.

Bagaimana bahasa dipandang dalam analisis wacana? sebelum lebih jauh ada beberapa pengertian terkait dengan analisis wacana itu sendiri, di antaranya yaitu:
Wacana : sebuah percakapan khusus yang alamiah formal dan pengungkapannya diatur pada ide dalam ucapan dan tulisan ; pengungkapan dalam bentuk sebuah nasihat, risalah, dan sebagainya. (Longman Dictionary of vthe English Language)

Wacana : rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang lainnya, membentuk suatu kesatuan, sehimgga terbentuklah makna yang serasi diantara kalimat-kalimat itu. (J. S. Badudu 2000)

Wacana adalah komunikasi kebahasaan yang terlihat sebagai sebuah pertukaran di antara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktifitas personal dimana bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya. (Hawthorn 1992)

Di sini ada beberapa perbedaan pandangan. Mohammad A. S. Hikam dalam suatu tulisannya telah membahas dengan baik perbedaan paradigma analisis wacana dalam melihat bahasa ini yang akan diringkas sebagai berikut :

Paling tidak ada tiga pandangan mengenai bahas dalam analisis wacana. Pandangan pertama diwakili oleh kaum positivisme-empiris, oleh penganut aliran ini, bahas dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan obyek di luar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala atau distori, sejauh ia dinyatakan dengan memakai pernyataan-pernyataan yang logis, sitaksis, dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiri.

Dalam kaitannya dengan analisis wacana, konsekuansi logis dari pemahaman ini adalah orang tidak perlu mengetahui makna-makna subjektif atau nilai-nilai yang mendasari pernyataanya. Oleh karena itu, tata bahasa, kebanaran sintaksis adalah bidang utama dari aliran positivisme-empiris tentang wacana. Analisis wacana dimaksudkan untuk menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama.

Pandangan kedua, disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran fenomenologi. Aliran ini menolak pandangan positivisme-empirisme yang memisahkan subyek dan obyek bahasa. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas obyektif belaka dan yang dipisahkan dari subyek sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacana serta hubungan-hubungan sosialnya. oleh karena itu, analisis wacana dimaksudkan sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu.

Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pernyataan. Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi di dalamnya.

Oleh karena itu, analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa, batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan.

Dalam analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis / CDA), wacana di sini tidak semata dipahami sebagai studi bahasa. Pada akhirnya analisis wacana memang menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, tetapi bahasa yang dianalisis di sini agak berbeda dengan studi bahasa dalam pengertian linguistik tradisional. Bahas dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan, tetapi juga menghubungkan dengan konteks. konteks di sini berarti bahasa itu dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan.

Menurut Fairclough dan Wodak, analisis wacana kritis melihat wacana, pemakaian bahasa dalam tuturan dan tulisan sebagai bentuk dari praktik sosial. Praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologi, ia dapat memproduksi dan memproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok mayoritas dan minoritas melalui mana perbedaan itu direpresentasikan dalam posisi sosial yang ditampilkan melalui wacana, sebagai contoh, keadaan yang rasis, seksis, atau ketimpangan dari kehidupan sosial dipandang sebagai suatu common sense, suatu kewajaran/alamiyah dan memang seperti itu kenyataannya.

Berikut ini disajikan karakteristik penting dari analisis wacana kritis. Bahan diambil dari tulisan Teun A. Van dijk, Fairclough, dan Wodak.

Tindakan

Prinsip pertama, wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action). Dengan pemahaman semacam ini mengasosiakan wacana sebagai bentuk interaksi. Orang berbicara atau menulis bukan ditafsirkan sebagai ia menulis atau berbicara untuk dirinya sendiri, seperti orang sedang mengigau atau di bawah hipnotis. Seseorang berbicara atau  menulis mempunyai maksud tertentu, baik besar maupun kecil. Wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran.

Konteks analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana, seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Wacana di sini dipandang diproduksi, dimengerti dan dianalisis pada suatu konteks tertentu.
1.       Histori
2.       Kekuasaan
3.       Ideologi

ANALISIS WACANA

Contoh dalam kasus Ahmadiyah
Kelompok Enam dan Tujuh
Dilihat dari sejarah Mira Gulam Ahmad mendominasi di India yang pindah ke inggris lantas menyebarkan agama islam di sana dan terjadi perbedaan tentang nabi terakhir.
Jadi wajar ada perbedaan tentang Ahmadiyah.

Kelompok Pertama
Di indonesia dianggap sebagai madzhab bukan sebagai ajaran, jadi siapa sebenarnya Mira Gulam Ahmad?

Sebenarnya Gulam Ahmad adalah seorang muslim yang taat dan kreatif menulis buku. Sebelum pindah ia sudah menulis buku yang isi di dalamnya Gulam Ahmad berkata : Aku adalah Adam, Aku adalah Ibrohim, Aku adalah Musa…….

Dari itu orang terlalu ngefans sama ia, sehingga orang-orang menganggap ia Nabi.
Intinya tidak menjustifikasikan ahmadiyah.
Pertanyaan : Andakan orang Indonesia kenapa anda tidak menjustifikasikan   Ahmadiyah?
Jawab : berdasarkan Pancasila dan Ayat Surat Al-Kafirun

Kelompok  ke Tiga
Kenapa Ahmadiyah dianggap sebagai aliran sesat, mari kita simak”
Sebenarnya orang inggris ingin menghancurkan islam dari dalam, itu terbukti kenapa disebut Ahmadiyah, kalau di Indonesia lebih moderat dengan mengikuti ajaran islam dan mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi, tapi dalam kenyataan menyalahi aturan. Intinya Ahmadiyah dianggap sesat.
Pertanyaan : Setujukah anda dengan tindakan anarkis di Indonesia?
Jawab : Tidak, karena termasuk tindakan kriminal dan merugikan banyak pihak.

Opini wacana, Analisa wacana harus :
Obyektif, kalau tidak obyektif maka terjadi perbedaan justifikasi benar atau salah
Wacana berkembang tidak lepas dari nilai (value)
Wacana berkembang tidak lepas dari faktor kepentingan
Setiap wacana yang berkembang pasti mempengaruhi massa/tanggapan massa

Pertanyaan : Apakah Gusdur mengatakan Ahmadiyah boleh di Indonesia asal jangan menggunakan kata islam?

Jawab : yang menolak pasti islam kanan ’mentok’ , yang menganalisa secara kaffah, sedangkan Gusdur tidak menganalisa secara obyektif. Segala sesuatu tidak lepas dari faktor kepentingan, seperti kasus Ambalat dan kasus tragedi 12 Mei/ penurunan ORBA adalah tidak lepas dari kepentingan-kepentingan besar seperti IMF dan para pemodal, sedangkan mahasiswa hanya sebagai alat.  Alat untuk mempermudah untuk mencapai tujuan kepentingan, jadi mahasiswa seharusnya tidak hanya melihat sesuatu yang nampak saja.
Pada tahun 1980 Ahmadiyah dianggap sesat kenapa sampai sekarang masih ada Ahmadiyah? Tidak ada yang tahu hati seseorang, karena tidak mudah merubah keyakinan seseorang!
               
“JADI WACANA YANG BERKEMBANG TIDAK LEPAS DARI FAKTOR KEPENTINGAN




ANALISA SOSIAL

Definisi Analisa Sosial

Analisa sosial dimaksudkan untuk membaca keadaan sekitar. Laksana cahaya, dari pancarannya itu tentu dapat menyingkap hal-hal dalam gelap dan tersembunyi. Sehingga analisa sosial dapat didefinisikan sebagai usaha memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang sebuah situasi dengan menggali hubungan-hubungan historis dan strukturalnya. Tujuan analisa sosial adalah memberi perhatian pada hal-hal yang menyebabkan suatu perubahan (masalah) sosial di masyarakat.

Sebagai sebuah cara, analisa sosial tidak dirancang menyediakan penyelesaian (solusi) langsung atas permasalahan yang tengah terjadi. Suatu kejadian sosial tidak mesti kelar dengan satu jawaban mujarab. Oleh karenanya, analisa sosial merupakan siklus. Dari suatu keprihatinan menjadi keinginan mencari tahu. Rasa ingin tahu berlanjut pada pencarian informasi. Lalu permenungan yang disambung dengan merumuskan perbuatan. Dan terus seperti itu.

Analisa sosial sesungguhnya mempunyai batas-batas tertentu terhadap kerangka kerja yang harus dilakukan.  Adapun batas-batas analisa sosial adalah sebagai berikut;


  1. Tidak dirancang untuk menyediakan sebuah jawaban langsung atas pertanyaan “apa yang kita perbuat” jawaban atas pertanyaan itu merupakan tugas strategi dan perencanaan.
  2. Bukan kegiatan esoteris reflektif monopoli kaum intelektual.
  3. Bukan perangkat yang “bebas nilai”, bukan sudut pandang yang netral, bukan sudut pandang yang semata-mata ilmiah dan obyektif terhadap realitas.

Karena analisa sosial tidak hanya sekedar pengetahuan,  kemampuan menggali situasi sosial masyarakat dapat dilakukan oleh setiap orang dengan merakit lampu penerang yang dapat dipakai  memahami situasi sosial di sekeliling. Seberapapun terbatasnya hasil yang diperoleh dari suatu fokus persoalan. Manfaat analisa sosial antara lain, sebagai berikut:


  1. Memahami persoalan pokok yang dialami masyarakat.
  2. Mengerti kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan dalam masyarakat.
  3. Keterkaitan dalam berbagai sistem (sistem politik, ekonomi & budaya) dalam kehidupan sehari-hari orang banyak.
  4. Potensi-potensi masyarakat.
  5. Kebutuhan dasar orang banyak.
Langkah-langkah Analisia Sosial

1. Konversi, yaitu menyingkap dan memperjelas nilai-nilai yang mendorong kita melakukan tugas itu; berarti kita harus bersentuhan dengan berbagai perspektif, praduga-praduga, pendirian-pendirian yang mempengaruhi soal jawab yang kita lakukan dan penilaian-penilaian yang kita buat.

a. Apa keyakinan dan nilai dasar kita ?
b. Bagaimana rakyat?
c. Bagaimana martabat dan hak asasi manusia?

2. Diskripsi, yaitu membuat diskripsi umum dari situasi yang sedang kita coba untuk kita pahami. Mengumpulkan berbagai fakta dan tren melalui “brain storming” dan ceritera –ceritera yang berdekatan dengan pengalaman rakyat;

a.  Apa yang terjadi pada situasi tersebut?
b.  Apa yang kamu ketahui tentang situasi yang ada sekarang ini?
c.   Apakah yang terjaadi dalam situasi tersebut?
d.   Apa yang diungkap oleh foto-foto situasi tersebut?
e.   Kuisioner

3. Analisis, adalah kita dapat melaksanakan tugas tersebut dengan empat pertanyaan mengenai;

1. Sejarah. kita memandang situasi dengan mata kesadaran historis dan menegenali pengaruh masa lalu yang melatar belakangi kesadaran sekarang;
a. Perubahan-perubahan apa yang telah terdalam beberapa tahun ini?
b. Manakah peristiwa-peristiwa yang paling penting?
c. Apakah yang akan terjadi sepuluh tahun lagi bila kesadaran seperti ini?

2. Struktural, berbagai struktur (pemerintah, hukum, pendidikan, perdagangan, tenaga kerja, budaya , agama, keluarga, dll) membentuk situasi yang bermacam-macam cara lembaga, proses atau pola yang menentukan faktor- faktor dalam akibat realitas sosial. Beberapa struktur cukup jelas, sedangkan yang lainnya tersembunyi.

a. Siapakah yang membuat keputusan terpenting? Jelaskan.
b. Siapakah yang mempunyai kekuasaan? Bagi siapa kekuasaan itu digunakan?
c. Manakah penyebab terpenting dari situasi dewasa ini? Jelaskan.
d. Bagaimana hubungan antar masyarakat?
e. Apakah dalam masyarakat ada penggolongan?
f.  Bagaimanakah peraturan dan hukum yang berlaku? Dan bagaimana si pelaksana hukum itu sendiri?
g. Bagaimana prosedur pembuatan keputusan atau peraturan?

3. Nilai-nilai, disebut dengan cita-cita yang menggerakkan masyarakat, ideologi-ideologi dan norma-norma moral yang menentukan aspirasi-aspirasi  dan harapan-harapan yang ada dalam masyarakat.

a. Siapakah pembawa nilai-nilai dalam masyarakat; pribadi-pribadi, model-model peranan, lembaga-lembaga.
b. Penggunaan kekuasaan didasari oleh nilai apa?
c.  Apakah yang dikehendaki seseorang dalam hidupnya? Jelaskan
d.  Manakah tradisi-tradisi masyarakat yang mempengaruhi?

4. Proyeksi

a.  Bagaimana keadaan sepuluh tahun yang akan datang jika bila situasi terus seperti ini?
b.  Manakah sumber-sumber kreativitas dan harapaan yang ada sekarang bagi masa depan?
c.  Apakah yang kau pelajari dari semua ini?

Kerangka Berpikir dalam Melihat Realitas Sosial
KONSERVATIF
LIBERAL
RADIKAL

ISTILAH (LATIN)
Conservo; menyim-pan, mempertahankan, menjaga hingga tidak berkutik
liber; bebas merdeka, tidak dipaksa
radix; akar

SIKAP
Cenderung untuk mempertahankan  yang sudah ada
Cenderung untuk membiarkan tumbuh-nya kebebasan bagi yang mampu
Cenderung untuk mencari akar, atau sebab yang ada di dalam suatu masalah

PANDANGAN TENTANG MANUSIA
Manusia itu statis, mereka hidup dalam tatanan tertentu (kelas, kasta) dan menjalani saja. Baik manusia maupun susunan tidak mungkin berubah.
Manusia dapat berubah. Tatanan hubungan antara manusia tidak berubah
Tatanan hubungan antar manusia harus diubah oleh manusia

SIKAP TERHADAP PERUBAHAN
Perubahan  itu tidak mungkin
Perubahan hanya terjadi pada pribadi
Perubahan terjadi pada tata hubungan

PANDANGAN PADA KEKUASAAN
§ Alat untuk menjaga agar tetap menjadi apa adanya.
§ Milik lembaga-lembaga yang berkuasa
§ Alat untuk memberi kebebasan bagi yang mampu me-ngembangkan diri & membantu bagi yang tidak mampu secara pribadi.
§  Milik pribadi
§ Daya dorong perubahan hubungan antar manusia.
§ Milik rakyat

TITIK BERAT KESADARAN
Kesadaran akan kedu-dukannya, akan lem-baga-lembaga yang sah dan resmi seperti pemerintah sebagai tempat yang memberi arti kepada dirinya.
Kesadaran tentang nilai pribadinya sendiri sebagai sebuah kemungkinan untuk berkembang secara bebas.
Kesadaran akan kebersamaan, terlebih dengan sesamanya yang mengalami nasib sama

UNGKAPAN

NILAI YANG BISA DIJADIKAN IDEOLOGI
Stabilitas, keharmonisan, keselarasan dan ketentraman
Pembangunan dan perkembangan
Dinamika, solidaritas dan pemerataan.

PANDANGAN TENTANG AGAMA
Alat untuk mempertahankan struktur masyarakat yang sudah ada. Agama menjadi ideologi.
Dasar dan motivasi pribadi untuk berkembang secara pribadi dan dasar untuk berbuat amal
Kesempatan untuk menyadari harga diri manusia sebagai pelaku sejarah. Agama memiliki fungsi profetik.

PANDANGAN TENTANG KEMISKINAN
Kemiskinan harus ada sebagai nasib yang tak terelakkan. Paling-paling manusia dapat berusaha untuk mencoba agar tidak menjadi miskin
Kemiskinan memang ada tetapi dapat dirubah. Kemiskinan adalah akibat dari kegagalan tiap individu (maalas, pasif, bodoh)

Kemiskinan tidak boleh ada, itu bukan nasib. Ke-miskinan seke-lompok orang adalah akibat langsung dari ke-kayaan sekelom-pok lain yang kaya.

SIKAP TERHADAP KAUM MISKIN
Perlu diberi nasehat rohani agar dapat menerimanya dengan tabah. Mereka boleh mengharap pahala di akhirat.

Secara pribadi perlu dibantu oleh orang yang kaya agar menolong dirinya (biasanya dengan pendidikan). Kalau tidak dapat perlu dibantu secara karikatif (dipenuhi kebutuhan dasarnya)
Orang miskin adalah mereka yang karena orang-orang kaya sehingga mengalami pemiskinan. Orang miskin harus bersama membebaskan diri dari belenggu itu.

PERANAN KAUM TERDIDIK
Kaum akademisi\para ahli di bidang sains, atau politisi yang membantu mereka dalam mempertahankan status quo

Mereka yang menguasai profesi mereka, dapat bekerja baik dalam sistem yang tersedia atau menciptakan sisitem yang lebih bebas.
Menjadi pemikir tentang masya-rakat berdasarkan pengalaman langsung dengan manusia yang menderita. Yang dapat bersikap inspiratif terha-dap nilai keber-samaan & kritis terhadap kekua-saan. Dikenal sebagai kaum intelektual\cendekiawan

PANDANGAN TERNTANG MAHASISWA
Orang yang berbakat yang perlu memperkembang-kan bakatnya untuk kemudian ikut memper-tahankan tata sosial yang ada, membantu memper-tahankan status quo, perlu dibina sejak dini.
Orang yang berbakat yang perlu diberi kebebasan untuk menjadi profesional sekaligus mampu membantu korban secara karikatif.
Cendekiawn\intelektual. Posisi yang belum termasuk salah satu golongan,punya kekuatan untuk merubah secara radikal.

MANAGEMEN AKSI

RENCANA, STRATEGI DAN MANAJEMEN AKSI

Pengantar Manajemen Aksi

Hal yang paling dasar dalam PMII adalah pembekalan dirinya dengan kapasitas intelektual yang memadai. Karena tanpa dasar konsepsional yang jelas, gerakan PMII juga tidak akan menemukan kejelasan pada wilayah strategi dan taktik gerakannya. Apalagi, asumsi dasar pergerakan adalah berawal dari konteks yang bernama pendidikan. Muh. Hanif Dakhiri dan Zaini Rahman (2000), mengutip Ben Agger (1992), mengatakan bahwa titik berangkat paling strategis bagi PMII adalah mentransformasikan kehidupan intelektual sebagai investasi soial, politik dan kebudayaan.

Dalam kontkes inilah, semangat liberasi (pembebasan) dan independensi (kemandirian) yang pernah lahir dalam sejarah pemikiran PMII menjadi sebuah rujukan yang cukup signifikan. Wilayah pembebasan dari konteks penindasan, baik dari represifitas otoritas politik (negara-militer-partai), maupun otoritas soial (agama, pendidik,) dan ekonomi (pasar). Dengan filosofi liberasi akan terjadi proses perjuangan melampaui segala beban berat kehidupan demi melanjutkan amanat kemanusiaan, sesuai dengan mandat yang diperoleh dari Nilai Dasar Pergerakan (NDP).

Sejalan dengan semangat liberasi dan independensi di atas itulah, PMII juga harus berperan menciptakan ruang bagi publik (public sphere) yang kondusif untuk mengembangkan kehidupan. Di titik inilah, Free Market of Ideas (FMI) menjadi signifikan untuk diciptakan pada ruang-ruang kemasyarakatan, kenegaraan dan keilmuan. Karena perlawanan terhadap hegemoni negara, ideologi, pasar dan agama harus dihadapi dengan membuka sekian pintu kesadaran yang sengaja dikunci demi kepentingan kekuasaan.

Pada perbincangan tadi, kita sebenarnya sedang bergulat dengan dasar dan semangat pergerakan untuk perlawanan. Dasar pergerakan ini akan menjadi lebih tajam, sebagai sebuah kerangka jawaban bagi persoalan kemasyarakatan apabila kita jeli dalam melihat persoalan yang mengemuka, baik pada level pembacaan situasi global (sit-glob), situasi nasional (sit-nas) maupun situsasi lokal (sit-lok). Maka perbincangan kita akan kita dekatkan dengan pembacaan atas “struktur penindasan” dan “situasi kemasyarakatan” yang ada di dalamnya, yang akhirnya nanti bisa kita jadikan landasan untuk membuat “situasi perlawanan”.

Pembacaaan atas Situasi Penindasan dan Kemasyarakatan

Arus utama dalam pembacaan atas situasi penindasan tidak akan bisa dilepaskan dari sebuah era yang dikenal dengan era “globalisasi”. Karena di era inilah, sekarang kita hidup dan menghadapinya dengan segala ketidakpastian. Ilmuwan yang mengkaitakan globalisasi dengan situasi penindasan adalah Deepak Nyyar (1998) yang mengatakan bahwa fase globalisasi dibagi menjadi dua, Pertama, fase imperialisme Inggris yang terjadi pada range 1870 – 1913 yang memakai payung ideologi kapitalisme klasik dengan doktrin yang terkenal dari Adam Smith “leizzis faire” (pasar yang sebebas-bebasnya, tanpa campur tangan negara).

Kemudian fase kedua, adalah dekade 70-80an ketika roda perekonomian bergerak ke Amerika Serikat yang mendorongkan semangat yang hampir sama dengan fase sebelumnya di bawah ideologi neo-liberalisme. Mengamini pendapat di atas, James Petras (2001) mengatakan bahwa di dalam globalisasi yang menjadi slogan Barat, sesungguhnya terdapat semangat dan kepentingan imperialisme dengan agenda penguasaan dalam arti yang sangat luas, baik dalam arti material (SDA) maupun mental (SDM) atas dunia ketiga.

Dengan berpijak pada tiga doktrin, yakni Librealisasi (kebebasan dalam arti ekonomik), deregulasi (tidak ada peraturan negara yang mengatur arus lintas barang/jasa dan tidak ada subsidi bagi rakyat) dan privatisasi (BUMN harus dijual pada swasta/pemodal), neoliberaslisme berjalan melewati setiap negara yang sudah tidak berdaya karena lilitan hutang Luar Negri (HLN) . Dengan tekanan HLN, inilah para negara donor-kapitalis (Uni Eropa, USA dan Jepang) membuat peraturan-peraturan yang dipaksakan bagi negara dunia ketiga untuk meliberalisasi kehidupan ekonominya.

Lembaga seperti International Monetary Fund (IMF), Paris Club, CGI dan WTO menjadi sangat efektif dalam melakukan kerja-kerja imperialisme dengan baju globalisasi. Setelah penghambat (peraturan Bea dan Cukai dll) bagi perdagangan bebas sudah bisa dikendalikan, perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki negara kapitalis yang sering disebut dengan Trans-National Corporation (TNC) dan Multi-National Corporation (MNC) mulai menancapkan kukunya di negeri pertiwi. Pada saat inilah, budaya lokal dan aset kekayaan alam lainnya akan disedot habis oleh para investor asing, dan akhirnya kita jadi terasing di negeri sendiri. Dan yang lebih parah, kita menjadi budak di negeri sendiri dengan upah yang sangat rendah.

Dalam relasi penindasan yang demikian, masyarakat kita sebagian besar tersituasikan pada posisi yang semakin hari semakin memprihatinkan. Petani tidak bisa menjual gabah dan padinya dengan harga yang tinggi karena kalah bersaing dengan padi dari luar. Hal yang sama kita jumpai pada komoditas gula, buah-buahan dan barang keseharian lainnya.

Dalam kondisi itu negara sudah tidak berdaya lagi karena tekanan dari Lembaga Donor untuk tidak memberikan subsidi pada rakyat. Kenaikan BBM, Listrik dan telepon adalah imbas dari pemotongan subsidi demi pembayaran hutang. Demikian juga kenaikan biaya pendidikan juga bisa dilihat dari perspektif ini. UU no 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS adalah gambaran dari gelagat negara yang ingin melepas tanggungjawabnya atas subsidi pendidikan, sehingga membuka peluang terjadinya komersialisasi dan kapitalisasi pendidikan. Persoalan bertambah runyam ketika fondasi perekonomian kita semakin lemah dan berimbas pada sektor tenaga kerja yang semakin kehilangan lapangan pekerjaan.

Dalam konteks semakin cepatnya laju dan arus globalisasi, kita malah secara politik masih sibuk dengan pertarungan kepentingan kelompok-kelompk elit yang sebagin besar tidak memihak rakyat. Pertarungan elit, baik di level eksekutif, Legislatif maupun partai yang kadang di antaranya melibatkan kekuatan militer, akhirnya berimbas pada kehidupan sosial politik masyarakat yang terpecah belah. Separatisme, konflik berbasis SARA adalah beberapa contoh yang bisa disebutkan, sebagai imbas dari amburadulnya budaya politik di level negara.

Di sisi budaya kita sedang digiring untuk menjadi orang yang tercerabut dari akar sejarah dan budayanya. Kita semakin bangga kalau kita semakin Barat dan bisa meniru mereka pada sisi kehidupan yang sekecil-kecilnya. Kita tidak sadar sedang didorong untuk menjadi orang konsumeris untuk menjadi pelanggan dari pasar yang dibuka oleh orang barat. Watak ini dalam sejarah bangsa kita sering diosebut dengan watak inlander. (Gus Iim ; 2001).

Dampak lain dari globalisai, adalah semakin mengentalnya paham-paham keagamaan yang akhirnya melahirkan gerakan-gerakan fundamentalisme agama. Islam adalah agama yang sering menjadi sorotan dalam kaitannya dengan fenomena ini, terutama dengan kerja-kerja terorisme yang semakin hari semakin merebak. Peristiwa 11 September (black tuesday), Bom Bali, Bom J.W Marriot semakin meyakinkan asumsi bahwa fundamentalisme agama sebagai sebuah resistensi terhadap globalisasi yang sangat West-biased (bias Barat); atau bisa dikatakan fundemantalisme pasar sedang berhadapan dengan fundamentalisme keagamaan (Islam).

Walaupun gerakan fundamentalisme Islam melawan kekuatan kapitalisme Barat, akan tetapi dalam konteks nalar sosial-keagamaannya, pemahaman tekstual (skripturalistik) terhadap ajaran dan doktrin agama sangatlah kental. Ruang-ruang ekspresi kontekstual menjadi semakin sempit, dan ajaran akhirnya dipahami sebagai sesuatu yang sangat kaku dan baku, karena pluralitas tidak menjadi bagian dalam kesadaran tafsir mereka. Sehingga gerakan fundamentalis Islam cenderung gampang mengkafirkan dan menggunakan kekerasan terhadap orang yang tidak satu pendapat dengannya dan menggolongkannya sebagai “the other”.

Dari sekian pembacaan atas situasi penindasan dan situasi kemasyarakatan di atas, kita mencoba membuat sebuah pola umum untuk memudahkan membuat sebuah strategi perlawanan dan situasi-situasi apa saja yang harus dibuat. Untuk ini, perlu melihat tulisan Eman Hermawan (2001) yang membagi masyarakat dalam 3 lokus, yaitu : Civil Society (masyarakat sipil: Ormas, LSM, Gerakan mahasiswa, kelompok-kelompok masyarakat lain), Political Society (Masyarakat Politik: negara, partai politik) dan Economical Society (masyarakat ekonomi: Pengusaha Pribumi, Investor, Spekulan, MNC/TNC). Dalam kerangka 3 lokus masyarakat inilah strategi dan taktik gerakan PMII akan dijelaskan dengan tetap memakai kerangka liberasi dan independensi, dengan mendorongkan Free Market of Ideas (FMI) dan menggunakan paradigma yang kritis dan transformatif.

LOKUS MASYARAKAT
STRATEGI GERAKAN
Civil Society

Konteks Kesadaran
¯ Kritis – transformatif
¯ Pluralisme dan berwawasan kebangsaan
¯ Sadar akan bahaya budaya konsumerisme
¯ Kearifan lokalitas dan tradisi
¯ Mengikis budaya patriarkhi yang menyebabkan ketimpangan gender

Konteks Gerakan
¯ Membuat kantong-kantong kritis dengan diskusi kerakyatan
¯ Live In dalam kerangka advokasi dan pendampingan
¯ Membuat ruang-ruang perekonomian rakyat
¯ Memperkuat bergaining politik terhadap masy. politik
¯ Kesenian dan budaya sebagai perlawanan
¯ Aksi massa dalam rangka injeksi kesadaran massa rakyat dan mendesakkan perubahan kebijakan publik

Masyarakat Politik

Negara
¯ Penguatan posisi negara terhadap tekanan pasar dan negara kapitalis dengan regulasi
¯ penegakan supremasi hukum dan pemberantasan KKN
¯ Kemampuan negara untuk mengolah ruang publik menjadi lebih terbuka dan transparan
¯ Penguatan sektor ekonomi untuk tenaga kerja
¯ Legislatif yang peka dan aspiratif

Par-pol
¯ Menolak elitisme par-pol
¯ Membuat ruang bargaining politik dengan parpol
¯ Menolak partai yang berselingkuh dengan modal
¯ Menolak penggunaan aset negara untuk kepentinga partai tertentu

Masyarakat Ekonomi
¯ Pengusaha dan pemodal pribumi yang berpihak pada rakyat
¯ Menciptakan pasar yang berkeadilan dengan tetap ada peraturan bersama (governance)/ doktrin ekonomi ke- Indonesiaan
¯ Membiarkan serikat buruh berdiri sebagai kontrol dan dialektika

Strategi yang masih merupakan pola umum dalam konteks perlawanan, harus diterjemahkan dan dikerucutkan dalam kerja-kerja taktis. Antono Gramsci (1956) membagi 3 wilayah taktik gerakan atau perang (war), yakni : war of position (perang posisi), war of opinion (perang opini) dan war of movement (perang gerakan). ketiga wilayah pergerakan ini menjadi landasan awal untuk membingkai stratak gerakan PMII saat ini.

Konteks pergerakan, minimal dari pelajaran Gramsci di atas, haruslah memenuhi 3 ruang, yaitu ruang penegasan jati diri organ atau posisi sikap sejarah terhadap situasi yang sedang berlangsung, ruang dialektika pemikiran dan gagasan sebagai dasar rasionalitas atas posisi yang dipilih dan ruang praksis yang menjadi indikator perubahan dengan sebuah dorongan konkret baik di level massa kader, maupun massa rakyat.

Secara jelas derivasi taktik dari masing-masing ruang dijelaskan dalam bagan sebagai berikut:

WAR OF POSITION
WAR OF OPINION
WAR OF MOVEMENT

Nilai Dasar Pergerakan

Aswaja

Paradigma Kritis Transformatif

Liberasi, Independensi dan Empowering

Tradisionalisme Kritis

A. Konteks Gagasan
• Tentang masyarakat
• Tentang pasar
• Tentang Negara

B. Konteks Manajemen Issu
• Basis media
• Basis intelektual kader
• Basis massa (diseminasi gagasan di level masyarakat)

A. Kaderisasi
• Formal
• Non-formal: (Kantong-kantong kader : diskusi, jalanan, organisasi, kesenian dll)
• Informal

B. Pengorganisiran
• Level kampus (antropologi kampus)
• Level organ gerakan
• Level basis massa rakyat

C. Desakan ke otoritas
• Kebijakan publik
• Kuasa sosial-ekonomi
• Kuasa agama

Bagaimanapun gerakan harus dipraksiskan. Seandainya basis massa belum diraih, maka tidak ada alasan untuk diam. Aksi massa harus segencar mungkin dilancarkan untuk mendorongkan semangat perubahan, sekaligus menjadi momentum untuk memberi injeksi kesadaran bagi massa rakyat. Yang harus diperhatiakan dalam aksi massa adalah perangkat aksi dan perlengkapan aksi. Perangkat Aksi/Panitia Aksi:

1. Lunak : Issu dan tujuan dari aksi massa.

2. Keras, meliputi kepanitiaan lapangan:

a. Kordinator Umum (kordum) sebagai penanggungjawb aksi dan pembaca statemen atau pernyataan sikap
b. Kordinator lapangan (korlap) yang mengatur jalannya massa aksi
c. Tim materi yang membuat pernyataan sikap, selebaran dan press release
d. Negosiator untuk melobi aparat, atau segala hal yang ditemui di lapangan
e. Kurir untuk melihat kondisi di depan, belakang dan samping barisan.
f.  Keamanan / security:
-  Ring dalam untuk mengatur masa aksi
-  Ring luar untuk menjaga massa dari serangan dari luar

g. Logistik atau konsumsi
h. Tim Evakuasi yang akan menentukan titik evakuasi kalau ada seranga, dan siap dengan kerja evakuasi atau pengamanan.
i. Tim advokasi untuk mengantisipasi persoalan sampai tingkat persidangan, dengan menghubungi LBH-LBH terdekat.
j.  Happening Art
k. Perlatan dan perlengkapan (perkap) aksi
l. Megaphone atau pengeras suara
m.  Spanduk
n.    Poster
o.    Bendera organ
p.    Tali Rafia (garis demokrasi/revolusi)
q.    Tanda pengenal atau slayer untuk identitas massa aksi
r.     Selebaran, pernyataan sikap dan press release
s.     Transport dan HP/HT untuk kurir dan keamanan

Pengorganisiran dan Mobilisasi Massa

Berdasarkan Situasi Nasional

Mengorganisir, memobilisasi, menggerakan dan memimpin perlawanan mereka (baik dalam satu isu khusus/lokal :kampung, pabrik, desa, kampus hingga isu umum sektoral bahkan isu umum yang lintas sektor).

Membentuk wadah-wadah perlawanan massa permanen.Wadah-wadah permanen ini bila berhasil dijaga dan terus diperbesar akan menjadi kekuatan pelopor kita untuk menggerakan massa secara lebih besar lagi.
Mempercepat pengkaderan (rekruitment).

Ketiga proses diatas dilakukan secara bersamaan. Sambil kita mengagitasi dan membuat struktur perlawanan.

1.    Prinsip pengorganisiran:

a.    Agitasi/Propaganda/Kampanye.
Keberhasilan sebuah aksi yang besar dan direncanakan akan sangat tergantung (apalagi bagi organisasi yang masih kecil) dari keberhasilan kerja-kerja agitasi/propaganda/kampanye yang didasarkan pada tuntutan umum massa yang tidak mau dipenuhi oleh pemerintah (lain halnya dengan aksi massa besar yang spontan akibat ledakan, yang tidak mungkin diperkirakan). Keberhasilan dari kerja-kerja ini terlihat dari:

-   Terbangunya atmosfer isu-isu atau tuntutan-tuntutan yang dipropagandakan.
-   Kesiapan (dukungan) massa secara luas untuk terlibat dalam rencana aksi (termasuk menarik aliansi/sekutu/kelompok).
-   Kesiapan subjektif organisasi memimpin aksi ini.
-   Reaksi pemerintah.
-   Bila aksinya terbuka) maka tanggal aksi (serta tempat aksi) juga menjadi populer di massa.

Semua alat-alat propaganda harus selalu dihubungkan dengan perluasaan propaganda isu yang kita pergunakan untuk aksi. Jadi setelah disepakati isunya, maka semua terbitan, poster, statement, diskusi, seminar, selebaran, grafity action (corat-coret) harus dihubungkan dengan hal diatas.

2.    Pengorganisiran

Kerja-kerja propaganda dan agitasi harus juga sejalan dengan pengorganisiran massa guna persiapan aksi tersebut. Artinya seluruh pengorganisiran massa harus dipergunakan “nantinya” untuk kekuatan aksi yang kita selenggarakan.

Secara umum “organisir”aksi ini harus terwujud secara massal. Dari mulai mengkonsolidasikan basis kita yang sudah terorganisir hingga perluasaanya. Ini harus menjadi tugas pekerjaan/pengorganisiran bukan saja bagi kader melainkan setiap massa yang terlibat aktif dalam rencana aksi. Sejak awal pengorganisiran harus terbangun jaringan agen/koordinator pengorganisiran (yang akan diperbaiki dalam setiap perkembangan pengorganisiran). Secara ekstrem dapat dikatakan “setiap hari” harus ada tambahan jumlah massa yang bisa diajak aktif untuk acara ini (menjadi organiser). “Setiap hari” harus ada tambahan kontak baru yang mau mengkonsolidasikan tempatnya (tempat tinggal/kerja) untuk diajak ikut rencana aksi ini.

“Setiap hari” harus ada kontak perluasaan daerah basis yang bisa diajak dan aktif membangun kekuatan dibasis daerahnya.

a. Jumlah basis (yang diorganisir dan perluasan/kontak), semua laporan perkota dan basis diatas)dilaporkan kembali.
b. Laporan kekuatan massa pelopor untuk memimpin/mendorong massa dalam kota/basis terlibat dalam aksi.
c. Laporan distribusi selebaran, poster dan corat-coret dan distribusinya.
d. Kesimpulan dari respon/tanggapan/usulan massa di seluruh basis yang diorganisir dan massa umum kaum buruh maupun non buruh.
e. Respon penguasa, penduduk setempat, aparat dan pemerintah.
f.  Evaluasi pengorganisiran
g. Evaluasi struktur koordinator/agen/mobilisasi hingga perubahannya.
h. Rencana kedepan (hingga pertemuan wilayah).

3. Rapat Umum (semua koordinator dari seluruh tingkatan)

Menjelang hari H akan ada pertemuan besar (seluruh koordinator hingga koordinator terkecil untuk cek kesiapan massa).

4.    Taktik Strategi Atas:

Pada saat ini sangat mungkin untuk mempergunakan strategi atas untuk mendukung dan memaksimalkan kerja-kerja dibawah. Yang dimaksud strategi atas disini bukan saja persoalan kampanye (seperti dalam bentuk seminar terbuka) melainkan melakukan seruan aksi nasional terbuka jauh-jauh hari. Kita tidak akan melakukan ini jika tidak terlihat kesiapan hasil kerja sahabat-sahabat di pengorganisiran. Setelah dilihat kesiapan untuk melakukan mobilisasi umum nasional/wilayah, maka pimpinan pusat/wilayah akan mengeluarkan seruan terbuka tentang aksi itu. Ini dilakukan juga paling cepat satu bulan sebelum aksi dilakukan.

Setelah ini harus dilakukan dukungan dari daerah-daerah baik berupa konferensi pers maupun aksi agar terlihat kebesaran dari rencana aksi nasional. Dukungan juga harus datang dari organisasi lain : Mahasiswa, LBH, LSM hingga partai-partai dan tokoh-tokoh. Adanya tanggapan dari pemerintah biasanya akan justru mendorong kampanye kita (memperluas atmosfer agitasi propaganda kita). Kerja-kerja pengorganisiran di bawah dapat lebih terdorong lagi. Walaupun kemungkinan represif dan kontra aksi akan dilakukan aparat keamanan, pengusaha dan pemerintah. Lain-Lain : Seminar, talk show dll.

Aliansi / Front

 Kesiapan kita untuk melakukan mobilisasi massa umum harus dilakukan sesuai dengan target kita. Cara-cara yang dipergunakan dalam aliansi/front harus diusahakan semua tuntutan, program dan taktik kita dapat diterima. Melihat watak kelompok-kelompok massa yang ada. Aliansi/front akan sangat mungkin terbentuk/terdorong jika kita berhasil melakukan pra kondisi. Dengan cara mempelopori pra kondisi kita juga dapat memimpin.

Aksi Pra Kondisi :

 Aksi pra kondisi yang dilakukan dimaksudkan untuk melihat tingkat konsolidasi dan persiapan massa sebelum aksi. Aksi yang terpenting adalah aksi rally, demo, rapat akbar di satu kawasan/kota. Jadi aksinya di basis massa. Ini dimaksudkan untuk memaksimalkan kerja propaganda dan mencek tingkat dukungan massa dan latihan bagi mobilisasi pada hari H nantinya. Sebelum aksi ini dilakukan terlebih dahulu dilakukan kampanye baik dalam strategi bawah (pengorganisiran, selebaran) maupun strategi atas : Konferensi pers atau kalau perlu ada aksi awal dengan mengadakan aksi mendatangi DPR, Depnaker dll.

Catatan tentang front : Bila front berhasil terbentuk maka kegiatan yang dilakukan dapat dilakukan atas nama front termasuk siapa yang menyerukan aksi (nasional) dan dukungan daerah. Tetapi yang harus diingat kita tetap harus menjalankan program kita dan independen terhadap taktik kita bila front tidak menyetujui ini menjadi keputusan mengikat.

 Seluruh kerja diatas harus dapat dikontrol secara penuh oleh partai. Kontrol disini bukan saja dimaksudkan untuk menerima laporan kerja sahabat-sahabat melainkan juga memberikan arahan secara regular dan konsisten dan membantu pekerjaan ini secara sistematis. Semua kerja-kerja di pengorganisiran (pabrik, kota, wilayah) harus dilaporkan secara rutin hingga kepusat. Hingga jauh-jauh hari sebelum hari H sudah bisa dilihat kesiapan dan kemungkinan keberhasilan aksi tersebut.

 Semua tindakan kerja-kerja pengorganisiran (dalam setiap pertemuan dan diskusi massa) dilakukan dalam satu gerak yang sama yaitu:

Agitasi dan propaganda : agitasi isu, propaganda untuk bersatu, tuntut ke pemerintah.
Kondisi basis (tempat kerja/tinggal) dan massa (untuk menetapkan taktik pengorganisiran) : jumlah massa, geopolitik basis, isu/tuntutan/persoalan basis.

Pertemuan berikut di basis-basis yang lebih kecil.
Pemilihan koordinator sementara.
Ada absensi.

Seruan untuk mengajak kontak dalam pertemuan massa berikut.
Kerjaan ini terus dilakukan berulang-ulang di setiap basis baru hingga menjelang hari H.

Catatan: Bila satu basis telah terkonsolidasi maka pertemuan pertemuan massa di basis dapat dihentikan dan digantikan hanya dengan tugas penyebaran bacaan dan mencari kontak di tempat lain. Tetapi pertemuan seluruh koordinator dalam satu basis tetap dilakukan.

A.  Pertemuan koordinator dibasis yang paling kecil: pabrik/kampung/desa/kampus:

Laporan (ditulis) :

Jumlah kumpulan (sesuai dengan struktur mobilisasi), berapa massa yang hadir dalam kumpulan (dari absensi). Dari kumpulan yang ada berapa % kemampuan untuk memobilisasi massa di basis tersebut.
Jumlah selebaran/poster yang didistribusikan dan corat-coret yang dilakukan.

Respon/tanggapan/usulan massa dan respon penguasa
Kontak massa lain yang ikut kumpulan.
Rencana pengorganisiran berikut/perluasan.
Evaluasi pengorganisran
Evaluasi struktur koordinator/agen/mobilisasi hingga perubahannya
Rencana ke depan (hingga pertemuan kota/wilayah terdekat).
Lain-lain

B.  Pertemuan kota/wilayah (pertemuan koordinator-koordinator basis terkecil):

Laporan Per kota (ditulis) :

• Geo-politik : jumlah massa, pengalaman revolusioner massa kota , peta geo-politik kota, lokasi kekuatan massa yang telah terorganisir, lokasi-lokasi basis strategi (sasaran pengorganisiran), kondisi masyarakat setempat, aparat, rute-rute jalan, transportasi dll.

• Jumlah basis (yang diorganisir dan perluasan/kontak): semua laporan basis terkecil dilaporkan kembali.

• Laporan kekuatan massa kepeloporan untuk memimpin/mendorong seluruh massa dalam satu “kota/lokasi” terlibat.

• Laporan distribusi selebaran, poster dan corat-coret dan distribusinya.

• Kesimpulan dari respon/tanggapan/usulan massa di seluruh basis yang diorganisir dan massa umum.

• Respon massa setempat dan aparat.

• Evaluasi pengorganisiran.

• Evaluasi struktur koordinator/agen/mobilisasi hingga perubahannya.

• Rencana ke depan (hingga pertemuan wilayah)

C. Pertemuan wilayah (pertemuan koordinator kota yang bisa diperluas melibatkan koordintor basis).

Laporan wilayah (ditulis) :

• Geo politik wilayah : jumlah massa, pengalaman revolusioner massa wilyah, peta geo-politik wilayah, lokasi kekuatan kota-kota yang di organisir, lokasi-lokasi kota strategis (sasaran pengorganisiran), kondisi masyarakat setempat, penguasa, aparat, rute-rute jalan, transportasi, dll.
• Jumlah kota yang menjadi basis.

Bentuk-bentuk Agitasi

1.  Agitasi-Propaganda tertulis

a.  Agitasi dan propaganda terbuka/umum/massal. Untuk aksi wilayah maka agitasi lewat poster biasanya sangat efektif untuk mensosialisasikan tuntutan-tuntutan kita, untuk membangkitkan atmosfer perlawanan disana. Apalagi ketika basis kita di wilayah tersebut masih lemah. Penempelan poster harus ditempelkan di tempat-tempat strategis yaitu tempat berkumpul massa.

b. Agitasi lewat selebaran. Tanpa selebaran tidak mungkin ribuan, puluhan ribu massa dapat kita organisir. Karena tidak mungkin kita mengumpulkan ribuan massa dan membicarakan hal ini, disamping tidak aman juga tidak ada tempat.

Selebaran ini sifatnya bukan saja sebagai alat untuk agitasi dan propaganda melainkan lewat selebaran ini struktur agen-agen mobilisasi dibentuk/dibangun. Lewat selebaran ini massa dapat digerakan secara terorganisir, patuh dan disiplin terhadap seluruh keputusan taktik-taktik yang kita buat. Massa akhirnya bisa dipimpin lewat selebaran. Biasanya setelah selebaran kedua maka massa akan mengerti bahwa ia akan dipimpin oleh selebaran.

Jadi pada dasarnya agen selebaran adalah juga agen mobilisasi sama dengan struktur mobilisasi kita. Selebaran juga berfungsi untuk keamanan rencana aksi. Lewat selebaran maka pertemuan-pertemuan massa dapat diperkecil. Hanya agen-agen misalnya.

Catatan: Selebaran tidak hanya dipergunakan pada pra aksi melainkan juga pada pasca aksi hari pertama atau untuk menggerakan aksi kembali, memperluas aksi dll. Di tempat-tempat di distribusikannya selebaran atau poster penting untuk dikirimkan sahabat ke lokasi ini. Tujuannya untuk mengagitasi dan selanjutnya mendapatkan kontak untuk diorganisir.

2.  Agitasi-Propaganda Oral

a.   Agitasi dan Propaganda lewat pertemuan/kumpulan
Ini suatu tindakan yang penting adalah untuk meyakinkan massa dan mengaktifkan mereka dalam rencana kita. Karena biasanya ada persoalan-persoalan ataupun pertanyaan dari massa akan suatu hal yang tidak ia dimengerti. Artinya agitasi dan propaganda kita lewat selebaran harus juga dibarengi dengan agitasi-propaganda lewat pertemuan. Lewat pertemuan kita bisa menjelaskan tuntutan kita lebih panjang dan bisa diterima massa.

b.  Agitasi dari rumah ke rumah
Agitasi –propaganda ini berfungsi untuk mengajak kontak untuk diyakinkan dan dapat ikut serta dalam pertemuan yang kita lakukan. Biasanya ini dipergunakan pada tahap awal pengorganisiran atau ketika ada perluasan ke basis lain dan sifatnya masih kontak.

 Pembangunan Struktur Agen Mobilisasi

Struktur agen yang kita bentuk disesuaikan dengan struktur basis massa yang menjadi sasaran aksi . Karena ini aksi yang sifatnya mobilisasi umum maka struktur yang dibentuk juga bukan hanya struktur agen di basis lokal melainkan struktur agen berapa basis/kota/wilayah. Misalnya dalam satu wilayah maka harus ada struktur antar kota satu dengan struktur kota lainnya. Sementara di kota tersebut juga ada struktur antar basis.

 Pembangunan agen mobilisasi aksi wilayah sama dengan pembangunan agen dalam pengorganisiran aksi di satu basis (pabrik/kampung/desa). Bedanya adalah dalam setiap pertemuan basis, jika kita punya kontak massa basis lain, maka akan sangat baik kontak kita ini dapat diikut-sertakan, karena tuntutan kita adalah tuntutan umum seluruh massa. Ini dilakukan untuk mempercepat perluasan basis-basis massa yang akan menjadi pelopor untuk menggerakan satu wilayah. Bahkan pada prinsipnya seluruh massa di satu basis HARUS selalu diingatkan bila punya kontak di basis lain dapat diajak ikut.

Setelah itu kontak ini ditugaskan untuk mengajak kawan-kawannya dan membuat kumpulan di basisnya sendiri dan mulai membangun struktur di basis tersebut. Untuk pemilihan terhadap siapa-siapa yang menjadi koordinator maka pemilihan harus diusahakan dipilih oleh massa sendiri. Karena masalah yang mengerti siapa yang terbaik dan paling berani, paling militan dan untuk melakukan ini. Dengan pemilihan ini maka koordinator ini akan menjadi pimpinan yang akan diakui/dipatuhi oleh mereka. Sambil membangun struktur di satu basis, juga harus dilakukan pembangunan/pertemuan antar basis dan antar titik-titik/konsentrasi basis kota yang menjadi sasaran. Walaupun struktur ini bisa saja bersifat sementara karena mungkin ada pergantian.

Catatan: Setiap koordinator harus mengetahui bagaimana menghubungi jajaran di bawahnya (koordinator dibawahnya). Artinya ia harus mengetahui tempat tinggalnya.

Peta Lokasi Aksi       

Sebelum bergerak harus ada pemetaan (peta) wilayah. Dimana titik-titik sasaran yang menjadi sasaran aksi kita. Dimana basis-basis kita, dimana massa basis-basis lain yang tidak kita organisir akan dapat diseret dalam aksi kita. Dimana letak tujuan aksi kiat, DPRD, DPR. Depnaker, Istana, dll. Dimana letak markas tentara/polisi yang akan di mobilisir untuk menghentikan aksi kita. Dimana titik yang akan menjadi tempat pertemuan utama dari titik-titik pertemuan seluruh massa. Dimana kemungkinan kita akan dihadang, kemana kita harus mundur, kemana bila kita harus tetap sampai ke lokasi aksi.

Waktu Aksi   

Waktu aksi yang tepat adalah pada saat massa berkumpul dijalan. Misalnya jam 6.30-7.00 WIB pada saat masuk kerja. Jam berapa pelopor harus sudah berkumpul dll. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengkonsolidasikan massa di titik-titik kumpul, kapan harus titik-titik tersebut ketemu dan kapan harus segera bergerak keluar.

Hal-hal yang harus diperhatikan:
Semua pekerjaan harus bersifat massal, artinya pekerjaan pengorganisiran, agitasi-propaganda, penempelan poster, pembagian selebaran harus bersifat massal, termasuk dana. Semua orang harus menjadi organisator, agitator-propagandis. Bila proses ini tidak menjadi massal bisa dipastikan sebelum aksi, bahwa kita telah gagal.
Harus ada dua tempat : tertutup dan terbuka.

Istilah-istilah dalam Aksi

Setelah kesadaran kritis terbangun maka perangkat yang akan dipersiapkan sebagai instrumen aksi untuk mengawal sebuah tuntutan yang akan diimplementasikan dalam sebuah aksi massa dan perangkat yang harus terdiri dari

KORLAP (kordinator lapangan)

Seorang leader yang bertanggung jawab akan jalannya aksi, korlap juga harus faham problematika dan tuntutan yang diangkat, memahami karakteristik massa aksi dan membuat kebijakan dalam situasi jalanya aksi

ASTER

Asisten korlap yang ditunjuk sebagai steakholder dalam aksi dan bertanggung jawab atas kebijakan korlap untuk menyampaikan dan mengkondisikan serta pelaksaannya terhadap massa aksi.

NEGOSIATOR

Wakil dari massa aksi untuk bernegosiasi terhadap pihak lain yang menjadi lawan atau penghambat aksi juga sebagai delegasi massa aksi untuk melakukan sebuah kesepakatan atau understanding kepada obyek yang dituntut

ORATOR

Melakukan sebuah propaganda kepada massa aksi ataupun masnyarakat luas agar mereka mengerti dan faham akan problematika dan tuntutan yang disampaikan pada pihak yang terkait aksi tersebut, dan juga agar massa yang lain bersimapti dan mengikuti aksi

HUMAS (hubungan masnyarakat)

Menyampaikan materi aksi kepada media (surat kabar,elektronik) sebagai publikasi dan opini building hal ini media berperan penting akan penyebaran jargon yang diangkat dalam aksi.

BAPOR (barisan pelopor)

Perangkat ini sebagai brigade terdepan dalam aksi dan diperlukan apabila aksi disetting Chaos tugasnya untuk menahan dan membalas lawan aksi

KORDUM (koordinator umum)

Bagian yang diperlukan apabila banyak sekali massa  aksi dan melibatkan berbagai erlemen didalamnya.

PENUTUP

Sebagai kekuatan yang misterius dalam mengontrol social tentunya akan lebih maksimal apabila para pelopor aksi intens dalam pendampingan atau advokasi pra dan pasca aksi protes, karna intensitas interaksi antara pendamping (CO) memberikan kontribusi yang besar terhadap radikalisasi masa aksi yang didampingi, dan aksi yang progesif   akan menjadi sebuah power society, maka seorang advocator atau CO jangan sekali-kali meninggalkan rakyat (komunitas) yang didampinginya  sampai sebuah target yang ideal itu tercapai. Wallahu A’lam.

NB: jika ada yang kurang sesuai, bisa dikurangi atau ditambahai sesuai dengan kondisi atau pola kaderisasi di tempat masig-masing.

tag; Kumpulan Materi PKD PMII, Modul PKD PMII 2018. Materi PARADIGMA PMII, Materi MANAJEMEN KONFLIK, Materi ISLAM SEBAGAI TEOLOGI PEMBEBASAN, Materi ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL-FIQR, Materi ANALISIS WACANA, Materi ANALISA SOSIAL, MANAGEMEN AKSI. Materi Pelatihan Kader Dasar.
0 Komentar untuk "Kumpulan Materi PKD PMII Se-Indonesia, Modul PKD PMII 2018"

Back To Top