Pusat Informasi- terkait Tips, Teknologi, Tutorial, Kesehatan, Fashion, Kuliner, Mahasiswa dan info penting lainnya.

Kilas Balik Pengabdian Kader PMII Rayon “Pejuang” Ulil Albab

1. Hukum BerPMII
2. Cuti BerPMII

Hukum BerPMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, atau yang lebih akrab disapa dengan PMII adalah organisasi Extra kampus. Kebanyakan bagi para orang tua Mahasiswa terdengar sebagai organisasi Pendemo atau Demonstrasi saja, tanpa ada aktifitas positif lainnya. Hal ini dapat dirasakan bagi para mahasiswa yang dekat dengan orang tuanya, atau bagi mereka yang kuliah dengan Pulang Pergi dari rumahnya.

Sedangkan bagi para mahasiswa dari daerah jauh tidak mengalami fenomena tersebut, seperti dari Pontianak Kalimantan Barat atau pulau kalimantan lainnya, Madura, Jawa Tengah, Sumatra dan Sulawesi. Baik mereka berdomisili di Pondok Pesantren atau Rumah Kos sekitar.

Terpilihnya saya menjadi ketua Rayon “Pejuang” Ulil Albab Pada 16 Nopember 2014  lalu, dan pelantikannya dilaksakan pada 6 desember 2014 adalah awal kepengursan saya bersama Sahabat/I dan berjalan dengan lancar.

Pernyataan tersebut ditandai dengan beberapa program kerja yang direalisasikan, salah satunya mengadakan MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) pada 28 Desember 2014.

Sebelumnya Rayon-Rayon di Komisariat Al-Qolam selalu mengadakan agenda pengkaderan formal ini atas kerjasama kedua Rayon, yaitu  Rayon “Pembaharuan” Al-Ghazali dan “Pejuang” Ulil Albab sejak 2011-2013 dengan nama agenda “MAPABA Bersama.” Program MAPABA kami menjadi nilai lebih, sebab dapat melaksanakannya sendiri, demi kebutuhan pengkaderan bagi anggota yang belum di MAPABA.

Biasanya MAPABA susulan ini dilakukan oleh komisariat dengan sebutan MAPABA Raya, namun kita melaksnakannya sendiri dan merupakan MAPABA  pertama kali yang di agendakan sendiri oleh Rayon, sebab keberadaan Pengurus Komisariat pada saat itu dalam tahap transisi. Selanjutnya kita melakukan diskusi rutinan 2 minggu sekali, sebagai Follow up materi-materi MAPABA dan dapat terlaksana lebih dari lima kali.

Ditengah-tengah berjalannya realisasi Program kerja, beberpa ujian menghampiri, diantaranya: Dengan keinginan untuk lebih fokus Ber-PMII dan merawat Rayon “Pejuang” Ulil Albab. saya mencari kerja untuk sampingan setelah memilih berhenti dari profesi Tata Usaha (TU) di sebuah lembaga SLTA/SMA di putukrejo, dengan harapan lebih bisa all out dalam berproses di PMII.

Informasi terkait lowongan pekerjaan yang ada saat itu adalah membuat gantungan teh di Arjosari, yang nantinya jika  ini berhasil akan dibuat sebagai usaha untuk tambahan kas Rayon. Namun yang terjadi, setelah saya masuk dan mendaftar, ada biaya Registrasi sebesar Rp 200.000, karna tidak memilki uang, akhirnya saya harus hutang kepada ketua komisariat kami yaitu sahabat Zainuri, yang ketika itu juga ikut daftar bersama.

 Setelah proses kerja, ternyata gaji bisa didapatkan setelah bisa mendapatkan pekerja baru yang mendaftar, seperti biasa  dikenal dengan istilah MLM (multi level marketing). Maka saya harus menyebar brosur bersama sahabat abdurrahman ke berbagai tempat, termasuk di area stadion Kanjuruhan ketika malam minggu, demi mendapatkan orang baru yang berkenan masuk di tempat tersebut. Sehingga membuat kami bolak balik ke arjosari untuk melihat hasil dan mengambil gaji (50.000/pendaftar).

 Tidak lama kemudian sepeda motor rusak dan harus menggunakan sepeda gunung demi menempuh perjalanan Gondanglegi-Arjosari dengan membutuhkan waktu sekitar 2 Jam. Setelah hanya mendapatkan hasil yang sama dengan uang pendaftaran kerja (200,000), saya memutuskan berhenti, sebab tidak sebanding dengan cara berkerja yang sangat melelahkan.

 Dan ternyata pekerjaan seperti ini pernah dimasuki sebelumnya di perusahaan lain dengan sistem kerja yang sama oleh ketua komisariat kami, akan tetapi ia diam dan tidak memberi tahu saya, dengan catatan untuk sebuah pengkaderan atau pembelajaran agar tidak mudah tergiur dengan pekerjaan tanpa analisa terlebih dahulu.

Pekerjaan ini berujung dengan menumpuknya hutang. dengan hutang Kas Rayon sebesar 300.000,- guna memperbaiki mesin motor dan 200.000,- untuk daftar kerja tadi dengan total kerugian 500.000,- beserta rasa kecewa dan lelah tanpa hasil sedikitpun kecuali pelajaran berharga dari pengalaman yang telah dijalani.

Selanjutnya masalah menyapa kembali, saat memilki keinginan untuk bertemu dengan salah satu pendiri PMII di acara cabang PMII Gersik, yakni KH. Nuril Huda. Saya mencoba membuat proposal agar dapat berangkat dengan beberapa pengurus Rayon dan Proposal tersebut diajukan ke salah satu DPR dan senior di Turen, akan tetapi Proposal  tidak cair dan berujung kenak tilang polisi. Dengan denda Tilang sebesar 150.000,- membuat saya kembali mencari hutangan uang kepada salah seorang sahabat.

Pikirang pening akibat hutang sudah mencapai nominal 650.000, sedangkan posisi saya hanya kuliah dan pengangguran. Namun masalah tidak bosan-bosannya menjumpaiku dalam keadaan seperti ini, dengan kedatangan seorang kakak kandungku kerumah dengan membawa pengaduan kepada kedua orang tua, atas tuduhan perkuliahan yang amburadul akiabat PMII.

Maka tak segan-segan orang tua memarahiku habis-habisan, sehingga amarah beliau berujung pada keputusan fatwa Haram Ber-PMII untukku dan harus berhenti serta mengundurkan diri dari ketua Rayon.

Keputusan beliau membuat saya jatuh sakit karna tidak mampu mencari solusinya, semalaman tidurpun tidak nyenyak. Keesokan harinya, karena tidak ada pilihan lain, saya mengambil keputusan untuk menuruti perintah dari orang tua, dengan membuat surat pengunduran diri dari jabatan ketua Rayon dan Fakum dalam Ber-PMII yang ditanda tangani langsung oleh ayahanda.

Kemudian surat ini saya ajukan kepada seluruh anggota Rayon, dengan mengadakan pertemuan bersama seluruh pengurus dan anggota Rayon pada 27 Februari 2015, namun respon mereka adalah penolakan akibat ketidak hadiran seluruh pengurus dan anggota Rayon. Wakil ketua Rayon saat itu, sahabat Muhammad Yusuf Ridwan melarikan diri ketika mendengar permohonan saya, dia beralasan bahwa Rayon sudah mulai  berjalan stabil dan berkembang pada masa kepengurusan kali ini, ia juga merasa berat untuk menggantikan posisi saya sebagai ketua Rayon “Pejuang” Ulil Albab.

Keadaan kian memperburuk nasib yang dilematis, akibat orang tua melarang Ber-PMII, sedangkan Sahabat/I menolak adanya pengunduran diri yang saya lakukan.

Beberapa hari kemudian sahabat Aminullah (ketua Rayon “pembaharuan” Al-Ghazali saat itu) membawa saya kepada salah seorang senior seusai acara pelantikan Rijalul Ansor di Kepanjen.
 saya dipertemukan dengan Bpk. Masruri Mahalli di kediamannya. Dalam hal ini beliau memberi beberapa motivasi, diantaranya yang paling saya ingat “kamu akan menjadikan Fatwa Haram Ber-PMII dari orang tuamu sebagai tantangan atau hambatan?” tandas beliau. kalimat tersebut begitu singkat, padat, dan akurat serta sulit untuk menjawabnya.

Bpk. Masruri tidak meminta saya untuk menjawabnya langsung, tapi beliau memberikan saya waktu untuk berfikir panjang dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Pertanyaan simple beliau menjadi PR dan saya bawa pulang untuk difikirkan lebih lanjut.

Otak semakin pening, tak kuasa saya menahan keadaan yang mencekam. Saya harus mengobatinya dengan cara ke Makam KH. Qosim Buchori di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum II Putukrejo. Desa yang berada tepat di utara desa Ganjaran dan menjadi pesantren atau tempat menyandang status santri pada waktu SLTA/MA dulu.

Setelah melakukan proses ritual ibadah seperti yasinan dan tahlil di makam, fikiran menjadi tenang dan jernih, apalgi bisa bercanda ria bersama beberapa santri sekaligus teman lama saat dulu nyantri disana.

Tak lama kemudian muncul inisiatif untuk mondok kembali, dengan harapan bisa menimba ilmu dan Ber-PMII kembali dari pesantren tanpa sepengetahuan orang tua. Inilah interpretasi serta implementasi dari cara merespon semua cobaan, khususnya melewati larangan Ber-PMII dengan jalan melanjutkan Proses pembelajaran organisasi tanpa niatan melanggar fatwa orang tua.

Sebenarnya orang tua Melarang kita Ber-PMII bukan karna PMII itu sendiri, melainkan akibat kita menyalah gunakan organisasi atau berbuat sesuatu yang beraroma negative dan diklaim sebagai dampak dari Ber-PMII, lebih-lebih bagi orang tua yang tidak pernah mengikuti OMEK atau bahkan tidak faham akan PMII yang sesungguhnya.

Maka orang tua akan selalu skeptis atas aktivitas anaknya ketika berorganisasi. Dengan dasar demikian, saya memilki keyakinan kuat untuk Ber-PMII, dengan cara perlahan dan mencoba mengenalkan apa dan untuk apa PMII serta manfaat dari mengikuti organisasi tersebut.

Atas pemikiran dan dorongan dari sahabat-sahabat, membuahkan sebuah konsep untuk membuat program kerja yang mengenalkan nilai-nilai PMII khususnya sisi spiritual yang dikawinkan dengan sisi intelektual. Program kerja ini bisa mengampu dua kebutuhan, yaitu bagi para kader Rayon “Pejuang” Ulil Albab dan orang tua kader yang melarang anaknya Ber-PMII. Bagi kami kebijakan program ini sangat tepat, dengan rangkaian konsep; Khotmil Qur’an dan diskusi setelahnya.

Pertama kali kita merealisasikannya di rumah saya sendiri pada 22 Februari 2015, dengan harapan orang tua bisa memberi saya ruang bebas untuk Ber-PMII. Selanjutnya agenda Khotmil Qur’an juga dilaksanakan di kediaman sahabat Muhammad Yusuf Ridwan pada 9 Mei 2015 dengan sambutan hangat dari keluarganya.

Usaha ini mendapat respon dari orang tua untuk lanjut Ber-PMII, namun tidak secara terbuka. kami selalu mengharapkan agenda seperti ini tetap di realisasikan bagi kepengurusan-kepengurusan selanjutnya, khususnya di tempatkan di kediaman mereka yang dilarang Ber-PMII oleh orang tuanya.

Selanjutnya pada pertengahan oktober 2015, kami melakukan penggalangan dana bersama seluruh pengurus dan anggota di beberapa SPBU.  Penggalangan tersebut sebagai modal penyelenggaraan Santunan Anak Yatim dan Duafa’ pada 23 Oktober 2015 di MI (Madrasah Ibtidaiyah) Nurul Irsyad Putukrejo.

Acara tersebut berjalan dengan lancar dan mendapat dukungan penuh dari pihak lembaga dan juga ayah saya sendiri sebagai kepala sekolah di lembaga tersebut.

Agenda tersebut menjadi acara terkhir di kepengurusan Rayon masa kidmat 2014-2015 yang dilanjutkan dengan RTAR (Rapat Tahunan Akhir Rayon) pada 25 Oktober 2015 dalam rangka pergantian ketua dan jajaran kepengurusan.

Kepengurusan kami tidak hanya melahirkan program kerja yang berbeda dan lebih menarik, akan tetapi juga membuat sejarah baru dengan membuat jargon “Pejuang” untuk nama Rayon Ulil Albab, dan deklarasinya bersmaan dengan RTAR III.

Atas kegigihan dan jeri payah dalam mengembangkan Rayon sepenuh hati, apalagi usai acara santuan, orang tua saya memberi Ruang besar untuk berorganisasi. Ditandai dengan pertanyaan beliau terkait jabatan di organisasi PMII, dan beliau selalu membanggakan segala aktivitas berorganisasi saya dengan cara menceritakannya kepada saudara-saudaranya.

Artinya sudah mendapat apresiasi untuk berorganisasi, bahkan bisa dibilang berubah hukum, dari fatwa haram menjadi sunnah muakkad untuk Ber-PMII.

Wajib bagi para ketua-ketua di PMII memiliki Konsep dan strategi yang mampu melegalkan atau menghalalkan para kadernya untuk berorganisasi atas ridho orang tua mereka berdasarkan kondisi demikian. Dan di Kabupaten Malang konsep dan strategi tersebut sudah dimiliki oleh para ketua PMII, seperti contoh:


  1. Pandangan dari sahabat Jabir, selaku Ketua Umum Cabang PMII Kab. Malang 2016-2017. Yaitu “selama yang kita lakukan itu baik dan itu untuk proses pembelajaran kita, kenapa tidak? Kalau masalah orang tua kita melarang, itu karna mereka belum tau PMII dan untuk apa Ber-PMII. Ketika mereka sudah tau tujuan PMII dan untuk apa Ber-PMII, maka mereka tidak akan melarang kita.” 
  2. Pandangan dari sahabat Bahauddin Hamzah, selaku ketua Komisariat Al-Qolam Malang 2016-2017. Yaitu “orang tua melarang karna tidak tahu, maka berilah nilai-nilai PMII kepadanya dan lakukan pendekatan kepada masyarakat yang bernilai positif.”
  3. Selanjutnnya pandangan dari para ketua Rayon di lingkungan Al-Qolam;

a. Ketua Rayon “Pembaharuan” Al-Ghazali (fakultas Tadris), sahabat Nizar/ical mengatakan “oh, ini tujuannya baik kok, mungkin dilarang karna mereka bukan seseorang yang pernah kuliah atau kurang memahami organisasi. akan tetapi tidak apa-apa, toh tujuan baiknya nanti kita dan orang tua yang tau.”

b. Ketua Rayon  “Pejuang” Ulil Albab (Fakultas Tarbiyah), sahabati Najma mengatakan “orang tua tak ada hentinya bertanya ‘dapat apa kamu di PMII?’ dan itu menjadi ujian bagi kesungguhan kita Ber-PMII. Maka kita harus mengambil inisiatif, untuk menjadikan hal yang tidak disukai mereka dari PMII untuk diyakinkan bahwa itu benar. Kalau masalah dimarahi akibat berorganisasi, sudah menjadi makanan sehari-hari, tapi jangan lupa tunjukkan hal yang menarik/positif dari PMII. Tidak ada orang besar yang muncul karna leha-leha, akan tetapi mereka selalu dipenuhi pengorbanan.”

c. Ketua Rayon “liberalis” Averrous, sahabat mukhlis juga mengatakan “ kunci untuk membuat orang tua tidak melarang dan meridhoi kita dalam berorganisasi, ialah semangat dan perjuangan untuk memakmurkan organisasi dengan tulus dan tanpa tujuan lain yang pragmatis.”

Penaganan fenomena dilematis kader sperti ini tidak ada dalam bahasan buku kaderisasi, akan tetapi berasal dari pembelajaran pribadi, baik atas situasi dan kondisi ataupun kepandaian strategi ketua PMII dalam memakmurkan kadernya, demi kenyamanan berorganisasi. Manajemen organisasi dan kaderisasi pasti berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing tempat. Akan tetapi jika ini sesuai silahkan dipergunakan dan semoga bermanfaat bagi seluruh kader PMII di Indonesia, khususnya dia yang dilarang oleh orang tuannya untuk berorganisasi.

Oleh: M. Yusron
06 Januari 2017

Cuti BerPMII
Pendahuluan

Dibeberapa kampus, sering kali UAS semester genapnya mepet dengan bulan suci Ramadhan. Bahkan ada yang melaksanakannya di bulan Ramadhan. Jelas, ketika UAS semester genap berakhir, otomatis libur panjang tiba. Sekaligus liburan Ramadhan.

Aktivitas mahasiswa juga mulai berkurang. Bagi para mahasiswa luar daerah, mungkin sudah bersiap-siap untuk pulang kampung selepas UAS. namun ada juga yang tidak pulang kampung atau mudik. Bagi para mahasiswa putra daerah, khususnya kaum PMII, ada dua opsi;  lebih dominan di kampung halamannya atau masih berkecipung di kampus.

Dari fenomena ini, muncul beberapa uraian terkait aktivitas dan rutinitas mahasiswa PMII. Baik putra daerah ataupun luar daerah. Berikut kita kaji lebih lanjut.

Aktivitas BerPMII  Menjelang Ramadhan

Apabila Ramadhan sudah dekat, dan akan menghadapi libur panjang. Para aktivis PMII mengambil langkah strategis, diantaranya; Mengadakan rapat internal kepengurasan, baik di tingkat Rayon, komisariat dan cabang. Terkait agenda yang akan dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan, baik agenda agamis maupun kaderisasi.

Acapkali di agendakan pada bulan suci Ramadhan ialah buka bersama, dan seakan-akan menjadi agenda wajib tahunan. Namun ada beberapa tawaran kali ini:

  1. Aksi sosial, berupa bagi-bagi ta’jil kepada masyarakat kurang mampu atau anak yatim. Baik dipanti asuhan atau dirumah pribadi meraka. 
  2. Mengadakan penggalangan zakat fitrah, untuk dibagikan kepada yang lebih berhak(fakir miskin dll).
  3. Mengadakan agenda BUBER(buka bersama), sekaligus KULTUM pergerakan.
  4. Mengadakan agenda ngaji pergerakan, yang dapat dikonsep seperti pondok Ramadhan. Untuk waktu bisa diatur sendiri, sesuai situasi dan kondisi.
  5. Mengadakan tadarus di bescam/sekretariat PMII, baik 1-3 juz. Dan baiknya ditambah dengan diskusi ke-PMII-an atau lainnya.

Beberapa tawaran diatas tidak harus direalisasikan semuanya, namun bisa dipilih salah satunya. Dan jangan lupa untuk direkomendasikan untuk kinerja kelembagaan PMII, bisa jadi kalian memilki Rancangan tersendiri. Jika tidak merakit dan merealisasikan program kerja istimewa ini, maka bisa memilih untuk cuti berPMII.

Cuti BerPMII

Istilah cuti berPMII, dapat dilakukan oleh para kader yang lebih memilih untuk dominan di kampung halaman atau yang mudik. jangan kuatir, walaupun tidak bisa melakukan aktivitas seperti sahabat-sahabat yang masih berkecipung di kampus. Kalian masih memiliki tanggung jawab intelektual.
Untuk  tanggung jawab yang ringan, yakni:

  1. Selian membaca Al-Quran, jangan lupa membaca buku. Demi ketajaman intelektual dan doktrin untuk para calon mahasiswa baru PMII. Bisa dikatakan kepentingan rekruitmen.
  2. Menulis, guna membuat kinerja keabadian. Sebab tulisan akan tetap hidup, selama masih ada yang membacanya dan mengaplikasikannya. Sekalipun pengarangnya sudah pergi ke dunia lain.
  3. Diskusi dengan kader PMII terdekat atau dengan kader organisasi lain. Demi khazanah keorganisasian kita.

Untuk tanggung jawab yang lebih berat, yakni pengabdian diri untuk masyarakat. Diantaranya:

  1. Membantu menghidupkan rumah allah, seperti memakmurkan aktivitas tarawih dan tadarus. Sangat penting untuk menjaga keistiqomahan masyarakat, agar selalu tarawih dan tadarus. Kita harus jadi mobilisasi utama, bukan sok jadi orang yang di depan muka masyarakat. Akan tetapi pertanggung jawabannya ada di tangan kita secara legimitasi individual. Jangan buat agenda demo dirumah, di bulan Ramadahan kita berdamai sementara dengan pemerintah. 
  2. Menjadi insan yang mampu, ketika dibutuhkan masyarakat. Seperti contoh jika disuruh baca nida’ tarawih ataupun menjadi imamnya. Terkait do’a atau baca’annya bisa kita hafalkan sendiri. 
  3. Membantu masyarakat disegala bidang yang dibutuhkan. Apapun itu dan jangan malu. Sebagai warga pergerakan, sudah selayaknya survive dan siap selalu ketika dibutuhkan. Dalam situasi dan kondisi apapun.

Kesimpulan

Dengan hadirnya bulan suci Ramadahan, kita sebagai kader PMII dapat memilih untuk tetap beraktivitas atau cuti berPMII. Jika kita memilih untuk tetap beraktivitas dan dominan dikampus, maka bisa memilih, merekomendasikan dan merealisasikan salah satu tawaran di atas. Namun ktika kita mudik atau memilih lebih dominan di kampung halaman, maka kalian juga bisa memilih salah satu tawaran diatas. Mungkin dengan ini, walau kita cuti berPMII untuk sementara. Kita tetap bisa berkontribusi untuk PMII dan mensumbangsihkan diri kepada masyarakat. Sebagai pengamalan nilai luhur berPMII. Semoga bulan suci ini dapat membawa berkah bagi kita dan tetap memaksimalkannya sebagai bulan beribadah terbaik tanpa melewatinya dengan sia-sia. Amin.

Oleh; Yusron Alhaddad
24 Mei 2017 (H-3 Ramadhan)


PMII Cabang Kab. Malang 2016/2017: SKK dan PKL PMII sebagai Bukti Prestasi Gemilang

Latar Belakang

Sekian lama kepercayaan kader Rayon hingga komisariat melemah, akibat pandangan dan kenyataan Pengurus Cabang yang dianggap berkurang pergerakannya. Baik dalam segi kaderisasi ataupun aksi demonstrasi.

Hal ini dirasakan sejak 2013-2015, entah pada masa 1999-2012. Sebab berproses kami sejak 2013 dan mulai melakukan pengamatan sejak itu. Pengurus cabang hanya terlihat kordinasi saja, bahkan kebanyakan pengurusnya banyak yang tidak aktif.

Disadari atau tidak, ini adalah salah satu efek semester tua(8 atau lebih), Kemungkinan memang akibat faktor tersebut. terkadang mereka memang sudah dikerumuni kesibukan pribadi, Bisa jadi karna profesi atau tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. dinamika demikian bergulir dan hampir sama dalam tiap masa. Hal yang sama juga dialami kepengurusan komisariat berkenaan efek tersebut.

Alhamdulillah pada periode kali ini pengurus cabang mampu melahirkan hal baru dan membuat semangat para kader tumbuh, serta keinginan untuk berproses minimal sampai cabang. Patut diperhitungkan dan diteladani bagi seluruh kader. Apa yang mereka berikan hari ini? Mari kita analisa dan pelajari bersama perjuangan kinerjanya.

Bukan Sekedar Agenda formalitas

Kepengurusan PMII cabang Kab. Malang kali ini, dikomandoi oleh sahabat M. Jabir S.Pd, S.Pd.I. dan didampingi oleh Sekretaris Umum, sahabat sahabat Amin. bersama para punggawanya, mulai dari pengurus BPH sampai angota pengurus departemen. Mereka mampu mewujudkan kinerja yang amat baik. Dan karna kegigihan anggota pengurus cabang lainnya, cabang kabupaten mampu bertahan dan membawa kemajuan bagi PMII Kab. Malang.

Jika sebelum-sebelumnya hanya mengadakan kegiatan Formalitas, seperti pelantikan, MUSPIMCAB dan Konfercab. Bahkan terkadang MUSPIMCABnya tak menuai hasil atau hanya ceremonial. Pelantikan mengesahkan mereka sebagai pegurus, MUSPIMCAB mengatur rekomendasi untuk periode selanjutnya dan KONFERCAB sebagai proses pergantian kepemimpinan. Dengan demikian jangan salahkan jika kadernya tidak memiliki ketajaman intelektual.

Sedangkan periode kali ini berhasil menelurkan beberapa kinerja yang berkualitas dan patut dibanggakan. Diantaranya:

  1. Hasil PROKER disidangkan, demi kesepakatan        bersama kader se-kabupaten Malang.
  2. Mengadakan kajian gerakan.
  3. Pelatihan jurnalistik.
  4. SKP(sekolah kader professional, dengan 3 agenda, yaitu;
  5. Sekolah idiologi dunia(bersama cristeva dan buku beliau yang menjadi objek kajian).
  6. Sekolah aswaja. 
  7. TOF(training Of fasilitator.
  8. Aksi demonstrasi 2 kali (sebelumnya pada 2013-2015 hanya 1 kali dan itupun diakhir masa jabatan).
  9. Pelatihan Kader Lanjut (PKL) di Gedung PCNU pada 24-28 Februari 2017(merupakan PKL perdana cabang)
  10. Sekolah Kader Kopri (SKK) pada 21-22 April 2017 (Skk Perdana cabang).
  11. Peringatan Hari Lahir PMII Ke 57 dan PMII Kab Malang Ke 18, dengan beberapa acara diantaranya;
  12.  Lomba karya ilmiah, cipta lagu PMII dan puisi. Pada tgl 1-24 april 2017.
  13. Pengibaran Bendera PMII di gunung Mahameru, tepat pada tgl hari lahir PMII, yakni 17 april 2017.
  14. Rembug Kader (Alumni Pelatihan PC PMII Kab Malang) sekolah ideologi, sekolah aswaja, Training of facilitator dan pelatihan jurnalstik, pada 26 April 2017, di Aula IAI Al Qolam.
  15. Istighosah dan refleksi HARLAH PMII, pada 26 april 2017, di taman makam pahlawan
  16. Malam puncak HARLAH dan peringatan Isro' Mi'roj, pada 28 April 2017, di gedung serbaguna PCNU Kab Malang. Dengan rangkaian acara;
  17. Pembagian Hadiah Lomba.
  18. Pentas Seni Kader PMII Kab Malang.
  19. Ceramah Pergerakan.

dan beberapa agenda lainnya, benar-benar menakjubkan pergerakannya. Kinerja ini menjadi contoh program kerja yang produktif dan implementatif. Sebagai salah satu bukti regulasi kepengurusan cabang yang selalu ON.

Periode Kepengurasan Berprestasi Gemilang 

Agenda kaderisasi yang diselenggarakan pada tingkatan cabang adalah PKL, dan alhamdulillah periode 2016/2017 mampu mewujudkannya. Ini adalah perdana dicabang kami, sebab mulai dari kepengurusan 1999-2015 belum pernah merealisasikannya.

Agenda kaderisasi KOPRI cabang juga melaksanakan SKK perdana, pada 21-22 April 2017. Dan mulai dari kepengurusan 1999-2015 juga belum pernah merealisasikannya. Hal demikian menunjukkan, bahwa kemampuan pemeliharaan kader melalui sistem kaderisasi sudah mulai tidak diragukan lagi.

Maka dari itu sangat pantas jika mereka disebut sebagai periode emas, yang memiliki nilai tawar tinggi dengan prestasi gemilang. Semoga ini akan berlanjut, hingga PMII menjumpai kiamat.

Biografi Singkat Ketua Umum

Sahabat Jabir adalah seorang pemuda kelahiran desa. ia dilahirkan di Desa Putukrejo Kec. Gondanglegi Kab. Malang. Beliau putra sulung Bpak. Qosim(seorang pendidik/guru), dan memang bukan keturunan darah biru.

Pendidikan Formal yang ia tempuh:

  1. MI; Nurul Irsyad Putukrejo.
  2. MTS; Nurul Irsyad Putukrejo.
  3. MA; Raudlatul Ulum II Putukrejo.
  4. SI; IAI Al-Qolam Putat Gondanglegi Malang.

Pedidikan non Formal:

  1. Semasa kecil; ngaji di musolla Rt 07 Putukrejo.
  2. Saat mulai beranjak dewasa; nyantri di pesatren Raudlatul Ulum II Putukrejo. Pengasuh pesantren tersebut adalah KH. Qosim Bukhori.

Riwayat Organisasi:

  1. Ketua ORDA Al-kausar di PPRU II.
  2. Ketua Program Ilmu Al-Qur'an di PPRU II.
  3. Ketua Rayon "pembaharuan" Al-ghozali.
  4. Ketua Komisariat PMII Al-Qolam Malang.
  5. Ketua Cabang PMII Kab. Malang (sampai sekarang).

Walaupun beliau hanya anak Desa dan mengenyam pendidikan di Desa, akan tetapi Selama beliau menjadi Pimpinan organisasi, selalu mampu merealisasikan program kerja dan hampir tidak ditemukan kesalahannya. Dalam artian selain implementati juga mampu bergerak sesuai kondisi kader serta tidak membuat kecewa para anggotanya.

Beliau sudah bertunangan selama 4 tahun, tunangannya adalah teman ngajinya saat  kecil di Musolla. Mungkin alasan tidak segera menikah karna begitu perhatian dalam merawat PMII dan ingin menyelesaikan proses pematangan keorganisasianya.

Penutup

Pandangan negatif kepada Pengurus cabang, berhasil dipatahkan oleh periode 2016/2017. Dan kini muncul keinginan positif untuk berproses minimal sampai Cabang. Kinerjanya begitu gemilang dan mampu memberi citra serta marwah bagi PMII Kab. Malang. Terimakasih atas semua perjuangan kalian, demi Nusa, Bangsa, dan negara. Juga khususnya untuk kader PMII Kab. Malang.

Oleh: Yusron Alhaddad
24 April 2017

tag;Kilas Balik Pengabdian Kader PMII Rayon “Pejuang” Ulil Albab, Kader PMII pejuang, PMII berdikari, PMII jaman Now, PMII terbaru.


0 Komentar untuk "Kilas Balik Pengabdian Kader PMII Rayon “Pejuang” Ulil Albab"

Back To Top