Pusat Informasi- terkait Tips, Teknologi, Tutorial, Kesehatan, Fashion, Kuliner, Mahasiswa dan info penting lainnya.

Jargon dan Sejarah PMII Rayon Pejuang Ulil Albab

Jargon dan Sejarah PMII Rayon “Pejuang” Ulil Albab   

Pendahuluan

Pergerakan mahasiwa islam Indonesia, atau yang lebih akrab dikenal dengan PMII adalah sebuah wadah Organisasi Extra kampus yang berdiri sejak 17 april 1960.


Organisasi tersebut lahir untuk mengakomodir mahasiswa Nahdiyin dalam wadah organisasi di dunia kaum intelektual, yang menjadi kebutuhan mahasiswa NU. 

Embrio organisasi PMII tersebut adalah dewan perguruan tinggi ikatan pelajar Nahdlatul Ulama (DPT IPNU), karna dianggap kurang bisa mewadahi mahasiswa, dengan alasan pelajar sekolah atau siswa tidak dapat berdialektika dengan mahasiswa, juga cara berpikir dan bertindak yang berbeda, maka dipandang perlu adanya wadah khusus Mahasiswa Nahdlatul Ulama.

Dengan munculnya keinginan tersebut, maka PBNU memanggil 13 mahasiswa terbaik NU, guna merumuskan Organisasi bagi Mahasiswa Nahdiyin. Pertemuan pertama kali dilaksanakan di kaliurang berama 13 mahasiswa, diantaranya:

1. KH. Munsif Nahrowi.
2. KH. Nuril Huda Suaidi.
3. KH. Chalid Mawardi.
4. M. Said Budairy Alm.
5. M. Kholid Narbuko Alm.
6. Makmun Sukri Alm.
7. Hilman Alm.
8. Ismail Makki Alm.
9. Laily Mansyur Alm.
10. Abdul wahab Jaelani Alm.
11. Hizbulloh Huda Alm.
12. Ahmad Hussein Alm.
13. M. Sobich Ubaid Alm.

Pertemuan selanjutnya dilaksanakan di sekolah Muamalat NU Wonokromo, surabaya, guna membuat sebuah nama organisasi tersebut. Nama-nama yang sempat muncul ialah IMANU, Perhimpunan Mahasiswa Sunny  dan PMII. 

Akhirnya nama yang disepakati adalah PMII (atas usulan mahasiswa bandung dan Jakarta), hasil dari nama tersebut di sepakati oleh semua peserta rapat, dan digunakan hingga hari ini.

Pertemuan dengan KH. Nuril Huda (Pendiri PMII)

Saat saya berdiskusi tentang lahirnya sayap NU tersebut bersama KH. Nuril Huda, di sugio lamongan atau kediaman asli beliau. Ketika itu saya diantar oleh sahabat reza, salah seorang ketua Rayon Mata langit komisariat Institut Sunan Drajat Lamongan.

Ada cerita yang mungkin belum pernah ditulis oleh sahabat-sahabati, “dulu waktu hasil rapat memutuskan bahwa nama PMII yang disepakati, maaka saya pulang ke pondok di tuban dan matur kepada kiyai saya, setelah itu tanggapan kiyai ialah menyuruh saya untuk berpuasa selama 7 hari, agar nama PMII menjadi manfaat dan penuh keberkahan bagi pemeluknya” ujar beliau, pada 9 November 2015 lalu.

Maka yang di ceritakan beliau menunjukkan, bahwa PMII tidak hanya organisasi Intelektual, akan tetapi juga organisasi yang nilai sepirtualnya sangat diperhatikan dan tetap dijaga.

Basis yang menguatkan PMII, lebih disesuaikan dengan masing-masing Lokus, yaitu wadah Rayon (untuk lingkup Fakultas), Komisariat (untuk lingkup kampus), Cabang/PC (untuk lingkup kabupaten/kota), Kordinator cabang/PKC (untuk lingkup provinsi) dan Pengurus Besar/PB (untuk ranah se-indonesia). 

Lokus tersebut difungsikan agar lebih fokus bagi perkembangan kader di setiap area tanggung jawabnya, serta fokus dalam tugas dan program kerjanya, baik Rayon sampai PB PMII.

Namun seperti yang sering didiskusikan oleh sahabat/I PMII, bahwa Rayon adalah jantung kaderisasi, alasan yang menyertainya adalah Rayon memilki peranan besar dalam melakukan Rekruitmen anggota baru, melakukan pendekatan, menebar fatwa doktrin terkait PMII.

Penyelenggaraan MAPABA (masa penerimaan anggota baru), mengakomodir diskusi pendalaman materi PMII, mengenalkan dengan mahasiswa dalam tanggung jawab sosialnya dan pengkaderan lainnya.

Sejarah dan Filosofi Nama Rayon “Pejuang” Ulil Albab

A. Sejarah dan Filosofi Nama Ulil Albab

Aktualisasi anggota Rayon kita kawal sejak setelah MAPABA, salah satu contoh Rayon di Nusantara ini adalah Rayon “Pejuang” Ulil Albab dari Fakultas Tarbiyah Al-Qolam Malang. Rayon tersebut berdiri sejak 2011 lalu, Rayon yang dulunya pada tahun 2011-2014, belum memiliki Jargon nama, dan hanya bernama Rayon Ulil Albab. Filosofi nama Ulil Albab mengambil dari kitab suci Al-Quran ayat 190-191, surat Ali Imron Juz 3, yang berbunyi:
                 
Yang artinya;
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (190)
 (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka (191).

Berdasarkan nama dan filsosfi tersebut, diharapkan anggota, pengurus dan Alumninya bisa sesuai dalam ayat tersebut. Alangkah bahagianya jika kita menjadi kader PMII yang selalu haus akan ilmu pengetahuan akan tetapi tidak pernah melupakan allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring dan dalam keadaan apapun.

Juga selalu mengasah pikirannya dengan tafakkur atas segala ciptaan allah di bumi dan di langit, maka kita akan menjadi orang berakal yang sesungguhnya.

Nama ini diusulkan oleh sahabat Mukhtar dan di sepakati oleh sahabat Kholil, selaku ketua dimasa awal berdirinya Rayon atau sebagai ketua Rayon pertama kali.

B. Sejarah Kelahiran Rayon (Tgl Lahir dan Pendiri)

Adapun tanggal lahirnya Rayon “Pejuang” Ulil Albab diambil dari deklarasi Rayon pada 10 Maret 2012, bersamaan dengan Rayon "Pembaharuan" Al-Ghazali.

Sedangkan Nama-nama Pendiri Rayon “Pejuang” Ulil Albab adalah sebagaimana berikut:

  1. Kholil (Pontianak)
  2. Abd. Ghofur (Sumawe, Malang)
  3. Abd. Latif (Pontianak)
  4. Abdulloh (Pontianak)
  5. Muhtar (Gondanglegi, Malang)
  6. Hasib (Pontianak)
  7. Toni (Pontianak)
  8. Marnali (Pontianak)
  9. Yayak Malmala (Gondanglegi, Malang)
  10. Usman Dzunnurain (Gedangan, Malang)

Merekalah sahabat-sahabat yang berjasa dalam berjuang melahirkan wadah PMII di lingkup Fakultas Tarbiyah IAI Al-Qolam Malang. Semoga jasa mereka dibalas dengan 1000 kebaikan dan keberkahan dari Allah, Amiin.

C. Sejarah dan Filosofi Jargon Rayon 

Selanjutnya pada periode  kepengurusan 2014-2015, ketua Rayon pada saat tersebut adalah sahabat Muhammad Yusron. Selain kepengursan di periode ini melaksanakan program-program kerjanya, mereka juga menorehkan sejarah baru dengan memberi Jargon pada nama Rayon kebanggaannya. 

Inisiatif muncul pada 10 juli 2015, selain karna Rayon Se-Cabang kabupaten malang sudah memilki Jargon, hal ini juga didasari dengan sebuah keyakinan, bahwasanya Jargon akan menambahkan Ghiroh keorganisasian keluarga besar Rayon Fakultas Tarbiyah.

Demi menindak lanjuti inisiatif luar biasa tersebut, ketua Rayon memberikan kebebasan untuk mengusulkan nama dari jargon, beserta filosofinya pada 12 juli 2015. 

Akhirnya karna tidak ada usulan yang dikemukakan, baik oleh pengurus  maupun anggota, maka sahabat Muhammad Yusron selaku ketua Rayon mengambil langkah taktis serta memberi usulan, dan lahirlah sebuah Jargon “Pejuang” atas filosofi dan harapan mulia.

landasannya demi terbentuknya Kader Rayon Ulil albab yang selalu menjadi pejuang, bagi manusia yang kehausan ilmu pengetahuan serta mengingatkan, agar selalu ingat kepada allah dimanapun ia berada, dan ini menjadi salah satu amal dan nilai Jihad fisabilillah.

Dengan demikian Jargon tersebut dideklarasikan pada 25 Oktober 2015, bersamaan dengan pelaksanaan RTAR III (Rapat Tahunan Akhir Rayon). 

Sejak itu Nama Rayon telah disyahkan dan lebih dikenal dengan Rayon “Pejuang” Ulil Albab. Sedangkan ciri khas dari Rayon tersebut ialah selalu menaruh nilai-nilai keagamaan, setiap akan memulai diskusi, selalu diawali dengan pembacaan tawassul dan surat al-fatihah.

Bahkan sering sekali melakukan Khotmil Qur’an dan dilanjutkan dengan diskusi. Selain bertujuan untuk menambah kedekatan kita kepada allah, Khotmil Qur’an juga mampu memperkuat Restu dari para orang tua anggota/kader yang dilarang BerPMII, akibat diketahuinya acara-acara kami yang bernuansa islami dan kajian ilmu pengetahuan.

Nama-nama para Ketua dari masa ke masa:

Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh anggota, kader dan pengurus beserta para  alumninya, khususya kepada:
  1. Sahabat Kholil  (mantan ketua Rayon I)
  2. Sahabat Yusroful Kholili  (mantan ketua Rayon II)
  3. Sahabat Muhammad Yusron  (mantan ketua Rayon III)
  4. Sahabati Siti Toyyibah  (mantan ketua Rayon IV), 
  5. Sahabati Najma Qonita Kamila (mantan ketua Rayon V) 
  6. Sahabat Wanandi (ketua Rayon yang sedang menjabat) dan kepada  seluruh keluarga besar Rayon “Pejuang” Ulil Albab, mulai dari baru berdiri sampai nanti hari kiamat. Semoga berproses di Rayon tercinta ini tidak pernah sia-sia dan mendapatkan hasil serta keberkahan ilmu, Amin.
Demikian yang dapat kami persembahkan untuk sekilas jejak lembaga yang penuh dengan Proses para kader Rayon “Pejuang” Ulil Albab. Semoga dapat melahirkan alumni-alumni yang bermanfaat bagi masyarakat dan menjadi orang yang sukses.

Oleh: Yusron Alhadaddad 
(mantan ketua Rayon III “Pejuang” Ulil Albab)
31 Desember 2016
Diperbarui: 11 Januari 2018


PMII KH. Moensif Nakhrowi: Pendiri yang Hilang atau Terlupakan Sejarah

Pendahuluan

Kader PMII yang baik tidak pernah melupakan pendiri organisasinya, mungkin ini sebagai salah satu wujud persembahan terimakasih kepada pendiri PMII. Berkat mereka PMII mampu lahir ditengah-tengah mahasiswa NU, yang memang dipandang butuh sekali wadah tersendiri dari pada satu wadah dengan siswa. Karna kedewasaan prilaku, bertindak dan pola pikir yang amat berbeda dari siswa, maka tidak dapat disamakan serta dibedakan perkumpulannya.

Ke 13 pendiri pasti sangat bahagia melihat perkembangan pesat dan kuantitas serta kualitas kader yang memuaskan. Meskipun itu hanya bisa mereka lihat dari akhirat oleh 10 pendiri yang telah wafat. Sedangkang bagi ketiga pendiri(KH. Chalid Mawardi, Kh. Nuril Huda dan KH. Moensif Nahrowi) yang masih hidup, bisa melihat langsung hasil bercocok tanamnya benih intelektual muda NU.

Alhamdulillah dari ketiga pendiri yang masih hidup, saya bisa bersilaturrahim dengannya. Kecuali KH. Chalid Mawardi saya belum bertemu, semoga saya ditakdirkan untuk masih bisa bertemu dengan beliau. Pendiri yang pertama kali bisa saya jumpai adalah KH. Nuril Huda, pada awal November 2015 di lamongan bersama sahabat Reza dan Abdur Rahman.

Salah satu amanah yang Yai Nuril berikan kepada saya adalah mencari dan menemui pendiri PMII yang di Malang, yaitu KH. Moensif Nakhrowi. Beliau menyampaikan bahwa yai munsif masih hidup, namun jarang ada  di acara besar PMII. Yai Nuril sempat memarahi saya, karna perkataan saya yang berbunyi “Yai Munsif sudah wafat.” Saya mengutarakan hal tersebut berdasarkan buku-buku PMII yang menuliskan kata almarhum dibelakang nama Yai Munsif.

Amanah dari Yai Nuril saya iyakan, dan saya akan mengusahahakan untuk mencari dan menemui Yai Munsif. Alhamdulillah dengan bantuan sahabat kampus UM yang sering melaksanakan PKD di PP. Al-Islahiyah, dan tempat tersebut tidak jauh dari dalemnya Yai Munsif. Telah memberi informasi kepada saya, terkait alamat dalem dan keberadaan beliau. Informasi ini bisa didapatkan pada awal 2016 silam, dari ketua Komisariat PMII kampus UM 2015-2016(sahabat Ragil).

Detik-detik Pertemuan Tak Disangka

Kemarin 14 april saya ke singosari, dalam rangka mengantarkan delegasi peserta ke PKD(pelatihan Kader Dasar) Rayon ‘Kawah” Chondro Dimuko di PP. Al-Islahiyah. Dan delegasinya berasal dari Rayon “Pejuang” Ulil Albab dan “liberalis” Averrous komisariat Al-Qolam Malang.

Ketika adzan jum’at terkumandang dari Masjid At-Tohirin, kami bersama-sama sahabat PMII dari kampus UNMER Pasuruan untuk berangkat ke Masjid tersebut. Ditengah-tengah perjalanan, saya tiba-tiba ingat bahwa kata sahabat dari kampus UM “dalemnya yai munsif itu dekatnya Masjid bungkuk/At-Tohirin pak, gak jauh kok.” Kemudian saya berkata kepada Pak Yon Muklis “nanti sesuai shalat jum’at jangan terburu-buru balik pak yon.” Dia bertanya, “mengapa demikian?” saya jawab dengan tegas, “iya yon, sebab katanya dalem yai Munsif pendiri PMII di sekitaran Masjid. Apalagi kalau Jum’at beliau pasti ke Masjid, entar kita nanya kepada orang sekitar Masjid.”

Sesampainya di masjid tersebut saya mulai tolah toleh, setelah wudu’ langsung masuk ke dalam masjid yang nampaknya sudah padat. Ketika iqomah dikumandangkan sang muadzin, saya cari tempat kosong ditengah dan agak kedepan. Tujuan saya sambil cari yai Munsif dan beliau terlihat berada di baris kedua dari depan.  Setelah shalat jum’at selesai, saya, farmanto, yon Mukhlis dan satu sahabat pasuruan yang kebetulan belum kembali ke al-islahiyah, akhirnya kita ajak sowan juga ke yai munsif.

Setelah beberapa menit berlalu, yai keluar dan turun dari Masjid. kita pada sungkem semuanya pada beliau. yai bertanya “ini dari mana?” kami menjawabnya, “ kami dari Malang kabupaten yai, ingin silaturrahim kepada jenengan.” Kemudian yai mengajak kami ke dalemnya.

Muqoddimah Dialog  dalam Sowan 

Setelah berada di dalemnya, beliau menanyakan kami. Pertama ditanyakan dari posisi duduk paling kanan sebelah kami. “sampean dari mana?” tanya beliau, “saya dari kampus UNMER pasuruan yai” jawabnya. 

Lalu saya ditanya juga oleh beliau dengan pertanyaan yang serupa, saya jawab “kami bertiga(dengan 2 orang sebelah kiri saya: Pak Yon Mukhlis dan Farmanto) dari kampus IAI Al-Qolam yai, tepatnya dari Malang Kabupaten. Yai kembali bertanya, ”dimana letak kampusnya?” kami jawab“di kecamatan Gondanglegi yai.”

Beliau selesai itu bertanya kembali ke sahabat di sebelah kanan saya, “namamu siapa?” dia menjawab “ Rofik yai.” Kemudian “kalau kamu?” tanya beliau kepada saya, “Yusron yai.” Karna ada yang dari pasuruan, yai mengira kedatangan sahabat pasuruan ada hubungannya dengan sahabat PMII yang mengundang yai pada tanggal 27 april ini.

Sahabat pesuruan hanya menuturkan bahwa ia hanya kebetulan ikut sowan karna ajakan kami seusai menunaikan shalat jum’at. 

Menghaturkan Permohonan Ma’af

Ketika Yai munsif paham akan tujuan silaturrahim kami, disampaikan pula bahwa mencari dan menemui beliau adalah salah satu amanah dari Yai Nuril. 

Saya sedikit ceritakan kemarahan Yai Nuril kepada saya, akibat berkata bahwa Yai Munsif sudah wafat. 

Permohonan maaf tak segan-segan saya haturkan kepada beliau, akibat kesalahan besar tersebut.
Dan alhamdulillah beliau memaafkan, kemudian beliau dawuh “iya tidak apa-apa, memang saya banyak dikatakan wafat atau tertulis almarhum dibelakang nama saya dalam buku PMII. 

Kemarin juga ada anak UIN yang datang kepada saya untuk mohon maaf, karna buku PMII yang ia cetak menuliskan ‘almarhum’ dibelakang nama saya. Sekarang saya memang sudah jarang terlibat dan  dilibatkan di dunia PMII.” 

Mendengar pernyataan beliau, hati saya terasa sedih. Siapa yang telah melakukan semua rekayasa ini, sehingga beliau banyak dikatakan wafat dalam buku-buku PMII. 

Ini adalah perilaku yang sama sekali tidak untuk perkembangan PMII, tapi menghancurkan tubuh PMII sendiri. Apakah tujuan dibalik semua ini atau gejala fenomena perpecahan apa lagi? 

Apakah ada hubungannya dengan politik, semoga tidak pernah terjadi lagi perbuatan yang tidak terpuji ini. Akan tetapi bisa jadi ini akibat miss comunication sahabat. Saya hanya berharap PMII tetap damai dan aman serta semua kader dan alumninya sukses.

Nostalgia HARLAH PMII Ke 56 

Beliau sempat bercerita tentang perasaan bahagianya akan perkembangan PMII. Ketika beberapa hari sebelum HARLAH PMII yang ke 56 di Surabaya, ada salah seorang kader PMII UIN yang menemui beliau di dalemnya. 

Ia menyampaikan kepada Yai Munsif terkait undangan via sms kepada beliau untuk menghadiri HARLAH, dan beliau menyanggupinya serta meminta NO yang sudah sms tersebut.

Ketika Yai Munsif berada di salah satu hotel di Surabaya, beliau menelfon NO yang mengirim undangan melalui sms tersebut. Saat terhubung, beliau minta untuk dijemput agar bisa hadir ke lokasi. 

Beliaupun dijemput, namun ketika sampai di lokasi depan/ Luar HARLAH beliau mengelus dada sambil berkata dalam hati “ternyata tidak sia-sia perjuangan para pendiri PMII dulu, dengan Kuantitas yang begitu amat banyak sekali.”

Setelah itu beliau dibawa ke depan panggung acara dan berjabat tangan serta duduk disamping KH. Nuril Huda dan KH. Chalid Mawardi. Beliau semakin terkejut saat melihat para kader yang hadir dan memenuhi area HARLAH. 

Disamping beliau juga banyak para alumni PMII yang sudah sukses, terlebih mereka yang sudah menduduki jabatan pemerintahan seperti menjadi Bupati, Gubernur, Mentri dan lain sebagainya.

Saat naik panggung acara, KH. Chalid Mawardi berjabat tangan lagi dengan Yai Munsif. Dan menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya “datang kapan?” kepada Yai Munsif. Kata Yai Munsif “kayaknya beliau sudah mulai jadi pelupa, memang beliau umurnya satu tahun diatas saya. Saya sekarang umur 82, kalau Yai Nurilnya mungkin 79.”

Wejangan KH. Moensif terkait Berorganisasi

Ditengah-tengah asiknya bercerita, tak lupa beliau memberi sedikit wejangan terkait berorganisasi kepada kami, diantarannya:

  1. Tujuan kita ikut Organisasi, ialah karna belajar ilmu di masyrakat, bukan yang di bangku kuliah. Dan,
  2. Belajar berbicara. dengan pilihan kata yang baik dan benar serta irama yang santun, agar tidak menyakiti hati orang. Dengan retorika demikian kita akan diterima dimana saja, sebab sudah terbiasa berbicara baik, benar dan santun dalam setiap perkumpulan. Baik saat rapat, diskusi dan perkumpulan dengan masyarakat. Berbicara tidak mudah, karna pembicaraan harus jelas atau dapat dimengerti oleh pendengarnya. Serta,
  3. Belajar menjadi pendengar yang baik. ini juga tidak mudah. Jadi pendengar harus bisa memahami apa yang dibicarakan orang, yang cara berpikirnya belum tentu sama dengan kita. Tujuannya agar kita paham dengan tujuan pembicaraan dan dengan memahaminya kita dapat menanggapi pembicaraannya. Disitulah lahirnya diskusi.

KH. Moensif Berpesan Bagi Kader

Beliau juga berpesan kepada kader yang sedang berproses, pesan tersebut diantaranya:

  1. Alumni PMII tidak wajib menjadi pejabat, yang terpenting bisa bermanfaat untuk ahlussunnah waljamaah dan orang lain.
  2. Jangan berhenti di PMII saja, pasca PMII lanjutkan perjuangan di GP ANSOR atau kepengurusan NU lainnya. Berjuang demi ASWAJA. 
  3. Kader PMII jangan sampai sikut kanan dan kiri, untuk menggapai keinginan berada di tampuk kursi jabatan. terlebih di dalam PMII. Jika kita mengharapkannya, persiapkan diri kita sedari dulu/sejak awal, Insyaallah jika pribadi kita baik dan dipandang mampu oleh sahabat-sahabat, akan dicalonkan dengan sendirinya.
  4. Cari ilmu yang banyak, aktif organisasi dan di akademik.
Kesan Tempo Doloe

Beliau kalau dawuh/berbicara logatnya memang sebagai mana orang dulu, contohnya: kalau bilang “sedangkan” menjadi “sedangken”. Pokonnya setiap akhiran “kan” dibaca “ken” sebagaimana orang dulu. 

Dan tak kalah berkesannya saat beliau menunjukkan Al-Quran yang asli tulisannya KH. Tohir(makam bungkuk), yang ditulis pada tahun 1940 M dan masih utuh hingga saat ini. 
Peta Dalem/Rumah KH. Moensif.

Jika di posisi candi singosari. ke barat sedikit, ada perempatan lalu belok kiri sekitar 200 M. Nanti ada Gang kanan jalan menuju Masjid At-Tohirin dan atau makam bungkuk. 

Dalem beliau ada di depan masjid sekitar 50 M, ada plakat “sekretariat Ta’mir Masjid At-Tohirin” di depan dalemnya. Tepatnya selatan jalan, di situ dalem beliau. 

Atau langsung lewat google maps ketik makam bungkuk. Samping makam bungkuk juga terdapat pesantren Miftahul Falah, dan area lokasi tersebut adalah keluarga beliau. Makam bungkuk adalah makam KH. Tohir, dan KH. Moensif adalah putra almarhum. Jadi kalau bingung bisa bertanya kepada warga sekitar.

Penutup

Alhamdulillah akhirnya saya bisa bertemu dengan KH. Moensif Nakhrowi, dengan demikian saya sudah melaksanakan amanah dari KH. Nuril Huda. 

Bukan hanya itu, saya juga merasa nikmat ketika bertemu dengan Yai Munsif. Dengan pengalaman, wejangan dan pesan yang telah diberikan. 

Ingat, beliau tidak hilang dan juga belum wafat, beliau tidak boleh dilupakan oleh sejarah. Sejarah beliau harus tetap terjaga sebagaimana kedua belas pendiri lainnya. 

Jika kalian para sahabat punya waktu luang, mari sempatkan untuk bersilaturrahim ke dalem beliau. Apalagi jika kita bisa mengundang beliau di event PMII, baik lokal maupun nasional. 

Mari kita bersama-sama belajar PMII, utamanya kepada para pendiri PMII. Semoga ke 13 pendiri dan juga Mahbub Djunaidi mendapatkan pahala besar, dengan masuknya mereka ke dalam surga ilahi, amiin.

Oleh: Yusron Alhaddad
16 April 2017

NB: Rayon “Pejuang” Ulil Albab Sudah Pernah Bertemu dengan Pendiri PMII; yakni KH. Nuril Huda (di dalemnya yang di Lamongan) dan KH. Moensif Nahrowi (di dalemnya Singosari).

tag; Jargon dan Sejarah PMII Rayon Pejuang Ulil Albab, Rayon Pejuang Ulil Albab, Rayon PMII, Ulil Albab, PB PMII.






0 Komentar untuk "Jargon dan Sejarah PMII Rayon Pejuang Ulil Albab "

Back To Top