Pusat Informasi- terkait Tips, Teknologi, Tutorial, Kesehatan, Fashion, Kuliner, Mahasiswa dan info penting lainnya.

Aktivis Mahasiswa Tanpa Atau dengan Pacar

Aktivis Mahasiswa Tanpa Atau dengan Pacar- adakah dari kalian yang senang cari pacar di organisasi?

Otokritik aktivis:
1. Aktivis anti pacaran
2. Pacar Sang Intelektual


Aktivis Anti Pacaran

Pacaran sering kali menghambat aktivitas bagi pemuda, apalagi bagi mereka pemuda organisatoris yang selalu menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan organisasi. Jika memaksa pacaran, maka dikala pacar dan organisasi sama-sama membutuhkannya, maka harus memilih dan mengutamakan panggilan organisasi.

Dengan demikian mereka akan benar-benar pantas disebut aktivis, mereka hanya fokus dengan tujuan organisasi dan cita-cita  kesejahteraan masyarakat. Aktivis tidak sekedar berorganisasi dengan agenda diskusi, juga tidak hanya duduk di bangku kuliah. Salah satu contoh kali ini adalah Soe Hok Gie.

Siapa yang tidak kenal dengan aktivis tahun 60-an ini, dia seorang arsitek gerakan mahasiswa dan orator terbaik ketika itu. Demonstrasi dalam komandonya selalu terealisasi dengan baik dan dapat mempengaruhi kebijkan kepemerintahan Soekarno.

Pemerintah tidak hanya goncang dengan aksi demonstrasinya saja, akan tetapi  juga dengan tulisan-tulisan kritikannya di haraian kompas mampu membuat pemerintah ketakutan, mulai dari presiden sampai dengan para Metri-mentri sasaran Soe Hok Gie.

Dia tak pernah lelah dan tak putus asa menyampaikan aspirasi rakyat. Selalu mewaspadai kinerja pemerintah yang tidak pro rakyat, harga sembako dan BBM serta transportasi umum selalu melonjak tinggi. Berdasarkan kebijakan tersebut Soe Hok Gie berada di Garda terdepan sebagai pejuang kesejahteraan rakyat.

Akibat kesibukannya sebagai seorang aktivis sejati, membuatnya tak bisa berpacaran layaknya mahasiwa yang lain. Ia juga mengatakan dalam catatan hariannya bahwa “dalam dunia perjuangan mahasiswa-pemuda, rata-rata disadari bahwa wanita/pacar sering menjadi hambatan.”
Menurutnya, “tanpa menemui wanita yang ideal maka biasanya pacar menjadi candu.” Karna jika tidak bisa punya pacar ideal sesuai harapan, maka tak akan ada hentinya bermain-main dengan cara pacara, candu berpacaran sudah pasti menjalar dalam dirinya.

Soe Hok Gie sangat berharap ini tidak terjadi padanya beserta teman-temannya. Walaupun sejujurnya ia juga punya ketertarikan kepada rekan wanita di sekitarnya, namun biasanya ia memendam perasaannya.

Gurauan terkait pacaran pernah mereka obrolkan, ketika Jopie salah seorang teman Soe Hok Gie saat demonstrasi atau teman sekampusnya, ditanya tentang mengapa dia tak berpacaran, ia hanya menjawab “dilarang sama dokter” katanya sambil tersenyum.

Soe Hok Gie lebih memilih untuk tidak pacaran bukan saja karna menghambat,  tapi juga tak mau terikat, agar bisa terus dinamis. Baginya perjuangan lebih penting dari pada materi. Jiwanya sangat tulus dan tak henti-hentinya berkorban demi kemaslahatan masyarakat.

Jika ada yang mengaku aktivis, namun sehari-hari ia hanya disibukkan dengan berpacaran, dia bukan aktivis murni. Sebut saja dia mahasiswa tipe hedonis, yang selalu mengedepankan asas kebahagian dan kesenangan pribadi. Untuk perjuangan dia nihil.

Semoga kita bisa mengaca kepada sosok aktivis tahun 60-an ini, sebagai aktivis anti pacaran dan fokus kepada perjuangan serta cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya. Apabila kita tak sanggup sepertinya, sebisa mungkin professional terhadap posisi dan tanggung jawab sebagai agent of change.

Oleh : Yusron Alhaddad
27 Januari 2017

Sumber;
Soe Hok Gie: catatan seorang demonstran/pengantar, Daniel Dhakidae...(et al). -Cet. 10.- jakarta: LP3S, 2011 hlm 133-134.

Pacar Sang Intelektual

Pacar kaum intelektual itu tak sembarangan pacar, mereka adalah pacar pilihan yang begitu tepat sesuai bidikan pemikiran. Akan tetapi siapa yang bisa memiliki pacar sepertinya? Semuanya sulit sekali menyukainya.

Adakah inisiatif yang dapat membuatnya lebih cepat menarik perhatian dari para intektual? Ataukah hanya bualan sampah yang tidak akan ada hasilnya. Usaha apa yang pantas ataukah memang sudah tiada lagi cara mengatasinya.

Mengapa demikian, seharusnya pacar intelektual adalah hal yang utama bagi kaum pemikir elit ini. Pacar intelektual yang layak hanyalah bacaan dan tulisan, sedangkan diskusi adalah cara bermesraan yang dengannya. Diskusi akan membuat sang intelektual lebih romantis dengan pacarnya, sumpah.

Membaca adalah pacar pertama, karna ia jika sudah dikenali lebih dalam akan memberi investasi pemikiran. Bobot intelektual tak akan diragukan lagi, dengan nikmat yang disumbangsihkan secara perlahan usai bercinta dengannya.

Tulisan adalah pacar yang kedua, dengan menuliskan hal baru dari temuan bacaan di buku atau bacaan lainnya, serta menulis kehadiran ide baru hasil diskusi terkait buku yang telah dibacanya. Maka tidak layak lagi kejumutan berada dalam diri intelektual.

Diskusi menjadi satu-satunya cara bermesraan dengan kedua pacar tersebut. Apapun bisa kita lakukan, sebab iya bisa menambah kenikmatan dari keduanya.

Prinsip yang tertanam dalam pacar Intelektual yaitu "bacalah! diskusikan apa yang kita baca dan tulislah hasil dari yang telah kita diskusikan." Prisip wajib ini adalah pedoman utama bagi model pacaran kaum intelektual.

Pacaran antara pria dan wanita hanyalah mendatangkan rasa sakit hati, permainan cinta, dan dusta acap kali berada ditengah-tengahnya. Bukan tidak percaya dengan cinta, namun tidak percaya kepada pacaran antara dua jenis kelamin tersebut. Tak sedikit efek yang membuat kita dalam posisi fatal atau bahaya karnanya.

Alangkah lebih baik kita menikah dari pada berpacaran, jika hanya mengundang duka dan lara. Pacar intelektual adalah tawaran yang pantas bagi seluruh mahasiwa, tanpa memandangnya sebagai dogma ataupun doktrin. Tapi lebih tepatnya pacar intelektual sebagai kebutuhan pokok yang tidak bisa dihindari, dan menjadi aktifitas sehari-hari.

Mahasiswa adalah pilihan belajar setelah lulus dari SLTA, menjadi mahasiswa harus memiliki pedoman atau prinsip. pacar intelektual adalah solusi terbaik dan wajib diteladani bagi penyandang status sang intelektual sejati.

Oleh; Yusron Alhaddad

tag; Aktivis Mahasiswa Tanpa Atau dengan Pacar, pacar mahasiswa, kekasih mahasiswa, mahasiswa hedonis.
0 Komentar untuk "Aktivis Mahasiswa Tanpa Atau dengan Pacar"

Back To Top